Rumah Berlatar Gunung…

Sudah beberapa tahun ini aku tinggal di Surabaya. Jujur, aku ternyata belum menyatu dengan kota metropolis ini. Dasar wong ndeso.  Terasa betul rasa kangen pada suasana desa. Sawah. Hawa sejuk. Suara garengpung. Juga sebuah rumah berlatar gunung di teras rumah…

Tahun depan kuharap…  Amin..

I’m Indonesian..

Ada hal-hal yang menjadi rahasia Allah. Kita tak tahu apa yang direncanakanNya. Tiba-tiba saja :
SURPRISE !!!
Aku ternganga. Terima kasih Ya Allah… Berilah petunjuk dan kuatkanlah…
Amin.
Tapi kenapa aku tiba-tiba menjadi warga negara Malaysia ya? :)

Mencari dan Menemukan.

Ada hal-hal yang ingin kita cari. Atau kita temukan. Kadang tidak mudah. Tapi bisa juga mudah. Karena di dunia ini memang ada hal-hal yang menunggu untuk dicari. Menunggu untuk ditemukan.

Melihat pengalaman perjalananku yang tak terencana, kurasa seharusnya ada satu dua hal yang mesti disiapkan sebelum memulai perjalanan. Pertama adalah niat yang baik. Untuk mencari. Untuk menemukan. Sesuatu yang kita anggap bermakna dalam hidup.

Kedua, berangkat dengan rasa syukur. Karena Allah, Tuhan Semesta Alam telah memberi kita kesempatan untuk hidup, dan lebih penting lagi, masih memberi rasa kebutuhan untuk mencari. Untuk menemukan.

Mungkin untuk menemukan cinta. Menemukan bahagia. Menemukan cita-cita, sesuatu yang ”we wanna be”.

How about me? Ya. Kini aku memang tengah di persimpangan jalan. (Atau tidak. Sebenarnya bukan persimpangan. Tapi akulah yang merasa bahwa itu adalah persimpangan). Tapi apapun yang kupilih nanti, pastilah telah tertulis dalam GBHN (Garis2 Besar Haluan Nasib), yang telah dirancang Tuhan. Dan aku tahu Tuhan yang Maha Baik itu telah menyiapkan segala sesuatunya.Termasuk menyiapkan bekal perjalanan.

Saat ini aku tak bisa dengan bangga bilang bahwa aku telah menemukan apa yang kucari, apa yang ingin kutemukan. Tapi setidaknya ada satu hal yang aku tahu, bahwa perjalanan ini sendiri bagiku adalah sebuah cita-cita.

Seperti juga bukan stasiun Gubeng atau Sidoarjo yang kuinginkan, yang kucari.Tapi perjalanan dengan kereta kelas rakyat itu sendiri.Menikmati suara mesin gemuruh diesel, angin sumilir, juga pemandangan orang-orang yang mengantuk, membaca koran, atau tengah menatap keluar jendela dengan pandangan kosong sambil bermimpi…

Tanpa disadari sebenarnya pengetahuan ini telah lama ada, tapi tak sungguh2 ’kucari’.

Seperti juga saat dulu aku mendaki gunung. Ungaran, Merbabu, Merapi, Sindoro, Sumbing, Lawu, Slamet, Ciremai, dan Semeru. Perjalanan-perjalanan yang telah kulampaui.  Dingin udara menusuk tulang, keringat, rasa lapar, kaki pegal, lebam-lebam di beberapa sudut tubuh yang harus ditanggung.

”Apa yang kau cari nak? Puncak gunungkah? Bukankah kau akhirnya kan meninggalkannya?”

Bukan Bu, aku mencari perjalanan itu sendiri, lengkap dengan segala penderitaan, ketakutan, dan kesendiriannya. Dan tentu saja perasaan itu, perasaan bahwa aku telah berani menghadapinya. Itu saja.

Buat Anda yang tengah merancang perjalanan, selamat mencari dan menemukan…

But remember.. The eagle flies alone… Enjoy the ride…

-stasiun sidoarjo, sabtu pagi 9 jan 2010-

foto2 diambil dari mas google…

Rumi. Pencarian yang Sama. Satu hari.

Kemarin membaca cerpen Beni Setia di Kompas Minggu. Satu hari, aku ingin melakukan pencarian yang sama. Perjalanan yang sama.

Ya Allah, kabulkanlah…Please… Apa Tuhan? Kau akan menyuruh malaikatMu menuliskannya dalam buku hidupku? Terima kasih ya Tuhanku.. Terima kasih. I love you full.. :)


Rumi

Kompas Minggu, 3 Januari 2010 | 03:34 WIB

oleh BENI SETIA

Dingin itu memuncak sejak ngambil wudhu untuk shalat subuh. Kabut tebal. Petunjuk waktu pada arloji telah ada di kisaran 6, 3, dan 9. Apa ini termasuk wilayah Indonesia bagian barat, gumamku—memaksakan keluar kamar. Melangkah di papan kusam di tingkat dua, yang sepertinya jarang dibersihkan atau diinjak langkah tamu, pertanda tidak banyak yang datang. Menginap di losmen yang hanya dua tingkat ini, dengan empat kamar di kiri dan enam di kanan. Kamar dengan tempat tidur yang seperti diambil dari peninggalan bencana dua puluh tahun lalu—dengan lemari papa, seprai yang seperti direntang dan terbiar, menyerah di remang lampu yang lelah.

Baca selebihnya »

Lagi2 Lupa Bersyukur..

Hari ini aku bertemu dengan seorang anak perempuan, sebut saja namanya Rahma. Ia baru 3 tahun, seumuran Langit gadis bungsuku, dan memiliki kelainan jantung bawaan sejak lahir.

Saat alat ekokardiografi(sejenis pemeriksaan USG jantung) menyentuh dadanya, Rahma gelisah. Menangis tak henti-henti. Ibunya, seorang perempuan muda berwajah muram, ikut pula gelisah.

Karena tahu ada beberapa pasien di luar yang antri, entah kenapa tiba-tiba terasa kalau kamar periksa itu jadi gerah dan tak nyaman. Padahal biasanya dingin minta ampun.
“Duh, kenapa anak ini rewel banget ya?”gumamku resah.
Tapi saat kulihat wajahnya, kurasakan ada lelehan es beku yang membasahi hatiku.

Di bola matanya yang kecil itu ada dua mutiara putih. Keruh dan mengkilat. Kami, para dokter, menyebutnya katarak. Satu kondisi dimana lensa mata mengeruh, dan tentu saja menghalangi cahaya bagi Rahma kecil yang penuh rasa  ingin tahu.

Lelehan es itu melumerkan resahku. AC ruang periksa pun terasa dingin kembali. Aku tersenyum pahit. Ada ngilu menghunjami hati. Pertanyaan seputar takdir yang sejak dulu dibiarkan tanpa jawaban.

Lantas sepanjang hari ini aku berpikir, bahwa apapun yang kualami hari-hari ini, pastilah tak seberapa dibandingkan rasa sedih ibu Rahma, si kecil dengan mutiara di matanya. Setidaknya aku masih memiliki Langit yang sehat, meski kadang rewel. Begitu pula aku masih bisa memeluk dan melihat Cinta dan Lintang berlarian, meski kadang sifat keras kepala mereka muncul.

Ah, ternyata masih banyak yang belum kusyukuri dalam hidup…

Koin Prita dan Dokter Indonesia

Koin Prita dan Dokter Indonesia

Oleh: M. Yusuf Suseno

SAAT vonis denda 204 juta rupiah dijatuhkan kepada Prita Mulyasari, sontak beribu simpati datang dari masyarakat. Rakyat merasakan ketidakadilan telah menimpa Prita. Kemarahan publik melahirkan gerakan pengumpulan koin untuk Prita. Mengapa koin? Sebab, uang receh itu didaulat sebagai lambang perlawanan rakyat kecil kepada sistem yang lebih besar. Dalam kasus ini, kubu yang besar adalah RS Omni Internasional yang dipandang sebagian orang telah bersikap cukup arogan, plus sistem peradilan yang dinilai tak memihak rasa keadilan rakyat kecil.

Bukan hanya anggota Komisi Yudisial yang prihatin atas putusan itu, Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih pun ikut gerah. Tim mediasi dari Depkes diutus untuk kembali menengahi pertikaian antara Prita dan RS Omni. ”Hubungan dokter-pasien seharusnya tolong-menolong, bukan tuntut-menuntut,” kata Menkes (JP 9/12/09). Kegelisahan Menkes itu membuktikan bahwa selain mengganggu rasa keadilan, gerakan koin untuk Prita juga merepotkan pucuk pimpinan birokrasi kesehatan di negeri ini.

Mengapa demikian? Sebagai kasus yang semula berbau dugaan malapraktik yang dilakukan RS Omni Internasional terhadap Prita (meski tak terbukti), konflik ini telah menjadi cermin bagi dunia kesehatan di tanah air. Kericuhan yang diliput luas oleh media tersebut mewakili hubungan pasien, dokter, serta rumah sakit yang makin rapuh.

Komentar dan pertanyaan masyarakat pun beragam. Salah satu yang paling penting dijawab adalah pertanyaan tentang kualitas pelayanan kesehatan di tanah air. Apa yang terjadi dengan pelayanan kesehatan dalam negeri? Mengapa banyak orang kaya yang lari ke Singapura dan Penang untuk berobat? Apakah semata karena teknologi kesehatan? Benarkah berita tentang dugaan malapraktik di media massa yang muncul tiap minggu itu?

Era krisis kepercayaan tersebut telah diramalkan jauh-jauh hari. Suatu hari, Sir William Osler, Bapak Kedokteran Modern, ditanya tentang definisi dokter yang pintar. Dia dengan lugas menjawab, ”Sesungguhnya tak ada seorang pun yang bisa disebut dokter yang pintar. Di dunia ini hanya ada dua macam dokter. Dokter yang baik dan dokter yang buruk.”

Kita boleh tidak setuju terhadap Sir William. Namun secara tak langsung, Profesor Abraham Verghese, seorang ahli penyakit infeksi sekaligus penulis terkenal dari Amerika, berkata, ”Seorang pasien yang menyukai dokternya takkan pernah menuntut, apa pun yang terjadi, apa pun bujukan si pengacara.”

Kedua pernyataan tokoh dunia kedokteran dari era yang berbeda itu sebenarnya telah menjawab penyebab meruncingnya hubungan pasien dan dokter dalam beberapa kasus. Sayang, hal itu tak kunjung disadari oleh para pemegang kebijakan, pemilik industri kesehatan, maupun para komunitas dokter.

S.G. Jeffs, seorang dokter Inggris, yang jika masih hidup pastilah akan dianggap puritan, puluhan tahun lalu menulis hal yang sangat mendasar. Satu prinsip yang seharusnya terus ditekankan para dosen kepada para mahasiswa di fakultas kedokteran. ”Nobody is another case of… You have no cases. You have patients who are human beings with feelings and emotions.” Kalimat ini mungkin terdengar aneh. Siapa pula yang masih berbicara tentang perasaan dan emosi dalam dunia masa kini yang tergesa?

Para perumus kurikulum pendidikan dokter di masa mendatang seharusnya terus memberikan porsi lebih besar kepada pendidikan dan latihan komunikasi. Sehingga mahasiswa kedokteran memiliki bekal kemampuan berkomunikasi yang lengkap, jujur, sabar, empatis, positif, dan mudah dimengerti. Sebab, hanya dokter yang dapat berkomunikasi dengan baik, berempati, dan bisa meletakkan dirinya pada sudut pandang pasienlah yang akan selamat dari ancaman krisis tuntutan malapraktik.

Di kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, praktik kedokteran kadang-kadang dipaksa berubah hanya untuk menjadi baut kecil dari bisnis jasa rumah sakit. Hal yang sama juga terjadi di belahan dunia lain. Apa arti dokter yang pintar tapi dianggap kurang ramah, yang kesibukannya tenggelam di tengah keluhan pasien? Bukankah ini berarti para dokter Indonesia juga harus siap mengumpulkan koin guna menghadapi jutaan rupiah tuntutan malapraktik?

Sungguh, Indonesia tidak kekurangan tenaga ahli. Alat-alat di rumah sakit rujukan pun cukup lengkap. Bahkan, Amerika dan Eropa pun mengakui bahwa mereka tidak ahli dalam semua penyakit. Berbagai jenis penyakit infeksi khas dunia ketiga seperti malaria, demam berdarah, dan penyakit jantung rematik yang akrab dengan kedokteran Indonesia tak selalu dikuasai Barat.

Namun, mengapa RS di Singapura dan Penang menjadi tujuan pasien dari Indonesia? Itu disebabkan mereka berusaha membuat nyaman pasien dan keluarga. Juga kesiapan dokter untuk berkomunikasi dan memberikan informasi secara utuh. Apalagi mereka sangat sadar bahwa rakyat Indonesia adalah pangsa pasar yang besar, dan layanan kesehatan adalah industri jasa yang menjanjikan. Tanpa orang Indonesia, rumah sakit di Singapura dan Penang akan merugi karena investasi yang tak kembali.

Saat ini dunia layanan kesehatan Indonesia tengah menghadapi tantangan sangat berat. Dan jawabannya ada di tangan pihak-pihak yang memegang kendali masa depan. Selain pemerintah dan organisasi profesi, yang tak kalah bermakna adalah fakultas kedokteran, pencetak dokter Indonesia yang kini mulai muncul dan menjamur di mana-mana.

Di tangan mereka dokter Indonesia dibentuk. Apakah mereka nanti memandang pasien secara holistik, sebagai manusia seutuhnya, atau semata melihat pasien yang hanya terjangkit kasus maag yang tak sembuh-sembuh.

Saya teringat dengan nasihat almarhum Prof Boedhi Darmojo, seorang guru besar yang bersahaja, saat mengutip kalimat bernas Henry B Adams. “A teacher affects eternity; he can never tell where his influence stops.” Itulah mengapa seorang guru harus dihormati. Karena sentuhannya bersifat abadi.

*) M. Yusuf Suseno , dokter umum, saat ini tinggal di Surabaya

Catatan : paragraf terakhir tentang hakikat guru telah dipotong oleh redaksi JP. Mungkin karena pertimbangan ruang.  Padahal itu adalah bagian paling emosionil ..

Versi online ada di www.jawapos.com, klik : opini

Pilihan

Hidup adalah setumpuk pilihan. Sayangnya, dalam situasi tertentu, kita mengalami kesulitan menentukan mana yang terbaik. Atau sebaliknya, setelah kita memilih, kita merasa ada sesuatu yang salah dengan pilihan kita. Entah kenapa.

Pagi ini saya membaca buku Greatness Guide, tulisan Robin Sharma. Ada kalimat di chapter 42 yang meresap. At least, ia telah membantu saya memantapkan pilihan hati. Akan saya coba menyadurnya.

Bangunlah pagi-pagi setiap hari dan bertanya pada diri sendiri,”Apa yang akan saya lakukan jika hari ini adalah hari terakhir hidup saya?”

Sebagian besar kita membiarkan hidup yang mengatur kita. Kita terkantuk-kantuk di roda kereta kehidupan kita sendiri. Hari pun berubah menjadi minggu, minggu menjadi bulan, dan bulan berubah menjadi tahun. Tiba-tiba kita telah terbaring di ranjang kematian kita, berpikir dg sesal, “Ketika matahari bersinar dan toko toko dibuka -waduh!- saya lupa belanja. Sekarang malam sudah larut, dan saya baru ingat kalau harus belanja.”

Jalani hidup seakan hari esok tak akan pernah tiba. Ambil beberapa resiko. Bukalah hati lebih lebar. Katakan kebenaran. Ungkapkan cinta. Tersenyumlah. Menari. Bermain. Tolonglah mereka yang membutuhkan…

Bersinarlah…

Pagi ini saya merasa hidup, bersyukur dan ingin segera pulang. Tunggu Bapak di rumah ya Nak….

stasiun sidoarjo, minggu pagi 13/12/09


The Five People You Meet in Heaven

Baru saja selesai membaca terjemahan buku Mitch Albom, The Five People You Meet in Heaven. Buku yang beberapa lama telah ingin kubaca, tapi baru minggu ini terbeli.

Kisahnya sederhana. Tentang Eddie Maintenance, seseorang yang sangat biasa,  yang meninggal dan menjalani perjalanan spiritual untuk menyelesaikan konflik2 batiniah selama ia hidup.

Terlepas dari kepercayaan tentang hidup setelah mati yang berbeda antar pemeluk agama, buku ini cukup bagus untukku yang masih hidup. Setidaknya, bagiku ia mengingatkanku pada beberapa kalimat lama.

Pertama adalah, tak ada yang kebetulan dalam hidup ini. Semua peristiwa dalam hidup kita terkait. Terkait dengan masa lalu, dengan masa depan. Baik milik kita maupun orang lain. Semua memiliki tujuan. Kelahiran, kematian, rasa sakit, kehilangan, semua tidak berlangsung dengan sia-sia..

Kedua, seharusnya kita berusaha memaafkan siapapun. Apapun. Rasa sakit, apalagi dendam, mungkin bisa membuat kita bertahan hidup, tapi layaknya pisau bermata dua, iapun melukai kita diam-diam..

Ketiga, jelas buku ini mengingatkanku tentang kematian. Kematianku sendiri yang makin dekat. Seharusnya aku melakukan yang terbaik dalam hidup…  :( Hmmhhh…

Ini link download versi Inggrisnya… : 2shared

BONUS

Jika seseorang berbicara pada kita tentang bonus, terutama jika dengan huruf besar, BONUS, apa yang pertama kali kita pikirkan?

Uang tambahan. Kenaikan gaji. Promosi.

Yeah. That’s right. Karena aku juga. Tapi setelah kupikir ulang,  menurutku seharusnya kita tidak boleh hanya berpikir, atau berhenti di sana. Setidaknya, jika aku berkaca dari hidupku.

Beberapa tahun lalu, banyak orang  berkata, bahwa  hidupku saat itu adalah kesempatan kedua. Nyowo serep. Nyawa cadangan.

Alasannya adalah karena Allah masih menghendaki aku hidup setelah sebuah kecelakaan tragis yang sempat membuatku amnesia. Kecelakaan yang sama juga meremukkan, mematahkan dan memunculkan tulang pahaku ke dunia. Lantas setelah periode kelemahan lengan kanan yang sempat membuatku frustasi, Gusti Allah akhirnya kembali menggerakkan tangan kananku.

Salah satu implikasi dari kejadian itu adalah :

Seharusnya aku tidak boleh sedih dengan apapun yang terjadi dalam hidup.  Apapun yang kudapat hari ini, itu jauh lebih baik daripada kematian yang hampir saja kupilih. Hari ini adalah sebuah  bonus… Ekstra time yang sangat-sangat  berharga…

Termasuk kesempatan untuk bermimpi, menulis, sekolah lagi, dan bertemu dengan ketiga anak-anakku : Cinta, Lintang, Langit….

Implikasi yang lain adalah, seharusnya aku cukup arif untuk memanfaatkan kesempatan ini dengan berusaha jadi orang baik. Tapi sayangnya, kadang aku melupakannya… It’s too bad, isn’t  it? :(

Semoga Allah mengampuniku….

Seribu Rupiah di Satu Senja

Kemarin senja Surabaya mendung. Sebagian hujan. Kularikan motorku agak cepat, mengejar rintik. Dekat perempatan jalan Kertajaya, lampu kuning mulai memerah di kejauhan. Di sampingnya, seorang Bapak tua menjual koran. Biasanya yang dijual adalah koran pagi yang beritanya sudah agak kadaluwarsa.

Satu yang agak berbeda, ia memakai ‘kruk’. Salah satu kakinya cacat, tak ada.

“Pak, minta korannya nggih,”kataku dalam bahasa jawa. “Kompas atau Jawa Pos ada?”

“Nggak ada Mas. Adanya Surabaya Post.”jawabnya. Meski tak biasa membaca Surabaya Post, rasanya kasihan juga pada Bapak tua ini kalau  tak jadi beli.

“Tiga ribu to Pak?” Aku mengulurkan uang 3 ribu. Ini berdasar asumsiku bahwa harga JP or Kompas biasanya turun di sore hari.

“Nggak Mas. Dua ribu cukup.” Ia hanya mengambil dua ribu rupiah dari tanganku  sambil tersenyum. Wajahnya terlihat senang karena korannya terbeli.

Kalimat itu pendek, tapi bagiku cukup bermakna.

Seribu rupiah, bagi Bapak tua itu adalah makna kejujuran, harga diri, dan rasa syukur. Ia tak membutuhkan lebih.

9 dari Nadira, by Leila S Chudori

Masih belum bisa lepas..

9

Pagi itu Nadira menemukan sosok Sang Ibu di lantai dingin, terbaring bukan karena sakit atau terjatuh, tetapi karena dia memutuskan : hari ini aku bisa mati. Lantas mengalirlah cerita pendek beruntun yang berisi cinta, penderitaan, kesia-siaan, pengorbanan, lantas titik balik dimana segala menjadi terang. Atau seakan benderang. Masa lalu kelabu. Masa depan antah berantah yang entah kenapa hadir. Kepahitan yang menggerak-gerakkan ujung takdir.

Mungkin Ibu tak pernah bahagia, kata Nadira. Begitu pula ia. Tapi bagi pecinta setia Malam Terakhir, kumpulan cerpen Leila 20 tahun lalu, kebahagiaan cinta yang hadir lewat acara sinetron di televisi kita saat ini jadi tak terlalu penting. Semu bahkan. Yang lebih penting adalah pertanyaan Seno Gumira untuk buku ini. Cinta itu membahagiakan, atau menyakitkan?

9 dari Nadira tak menjawab lugas. Karena jawaban, bagi sebagian besar tokoh buku ini, sulit ditemukan. Pertanyaanlah yang sungguh-sungguh bermakna. Kumpulan cerpen inipun terus berpusar dalam kumparan problem psikologis. Masa kecil, masa lalu menghunjam, kadang mencabik.

Nadira, Kematian Tak Selalu Indah..

Normal Life..

Satu hari aku berkata pada seorang teman. “Back to your normal life..”

Tapi hari ini aku bertanya pada diri sendiri. Adakah hidup yang normal itu? Tidakkah sebagian besar peristiwa yang kini kita jalani adalah pilihan sadar?  Dan karenanya segala sesuatu yang terjadi adalah konsekuensi dari hal-hal yang kita pilih di masa lalu?

Kadang aku berpikir, kalau saja mesin waktu bisa kuputar, bagian mana dari hidup yang ingin kuubah? Jalan mana yang ingin kutempuh lagi, jalan mana yang ingin kuhindari? Sayangnya, jawaban pertanyaan itupun tak berguna. Cuma sekedar mengorek luka.

Akhirnya, mungkin memang tak ada  hidup yang normal. Sekaligus tak ada hidup yang tak normal. Yang ada cuma kini yang nyata. Setumpuk pilihan segera. Hidup cuma sekali. Untuk itu mesti berarti. Entah normal atau tidak, tak peduli.

Hanya saja, seperti kata Musashi

“Aku takkan melakukan sesuatu yang akan kusesali.”

Kapan aku sampai ke titik itu sensei?

musashi

Tentang Surga

Suatu sore, setelah ngobrol ngalor ngidul, termasuk tentang Pakde Ketut, tetangga depan rumah yang kadang pergi ke Pura, Cinta bertanya.

”Pak, apa orang-orang yang beragama Kristen, Hindu, dan Budha juga akan masuk surga?

Istriku terdiam. Memandangku, mencari bantuan.

Setengah berbisik aku bilang, ”Nduk, nanti saja kita bicarakan lagi. Biar Bapak pikir dulu.” Untunglah anak pertamaku sangat pengertian. Ia mengangguk. Duh, lega rasanya.

Pertanyaan itu juga telah lama tersimpan dalam pikiranku.

Oya, aku tentu saja bukan pakar agama. Bahkan pernah aku tersandung batu gara-gara tak sengaja mengutip ayat Gusti Allah yang tak kuketahui tafsirnya secara utuh.

Namun perbedaan pendapat antara mereka yang mendukung pluralisme agama, satu pemikiran yang kumaknai sebagai  ”Semua anak sungai, akhirnya bermuara ke laut jua” dan mereka yang menentangnya telah lama kuketahui.

Setelah bermenung ria dan mencoba mendengarkan suara hati, malam itu menjelang tidur, dalam temaram lampu ruang tengah yang menerobos pintu kamar, aku berbisik pada Cinta.

”Nduk,  menurut Al Qur’an dan hadits Nabi yang Bapak pernah baca, asalkan kita masih percaya pada Allah dan Nabi Muhammad, setiap muslim ’akhirnya’ akan masuk surga.”

”Lalu bagaimana dengan mereka yang bukan muslim?” Aku berhenti sebentar, menarik napas panjang.

“Nduk, yang memiliki surga itu bukan kita, tapi Gusti Allah. Jadi ya terserah Allah saja. Biar Allah yang memutuskan. Gimana? ”

Anakku mengangguk dan tersenyum, wajahnya kelihatan marem pada penjelasan bapaknya.

Malam makin larut. Malam itu adalah salah satu tidur yang nikmat dalam hidupku.

-Ini jelas bukan foto surga. Ini foto di depan rumah dinas di Grabag, Magelang, saat Cinta masih bayi. Wonderful memory…-

10028

Menukar Hidup

Hari ini aku melihat seseorang hendak menukar hidupnya dengan sesuatu. Entah apa. Mungkin untuk mendapatkan uang, memiliki pekerjaan, menunjukkan kesetiaan, atau mungkin sekadar cinta.

Ia, lelaki itu, dengan sepeda motornya, menyalip truk di depan, saat dari arah sebaliknya sebuah bus kota jurusan jembatan merah-sidoarjo melaju tak kalah kencang.

Nyaris. Mungkin tinggal beberapa sentimeter saja, ia hampir menukar hidupnya dengan celaka,  kematian. Kematian demi tak terlambat ke tempat kerja, segera sampai rumah, atau sekadar memenuhi janji, menyenangkan seseorang yang ia panggil, ”Sayang.”

Ternyata, begitu pula aku. Aku menukar hidupku, sebagian hidupku, juga masa kecil anak2ku, dengan karir, dengan uang.

Hari ini,  setelah seharian di kantor demi karir,  siang ini aku pulang, hanya sekadar untuk sholat, mandi dan berangkat lagi. Kerja. Kerja. Kerja hingga malam nanti.

Padahal aku tahu gadis keduaku, Lintang, yang cemberut menyambutku di ruang tamu itu, mengerutkan kening  semata karena kangen pada Bapaknya.

”Kenapa pergi lagi Pak?”

”Bapak harus kerja.”

”Kenapa Pak?”

”Supaya dapat rejeki. Jadi kita bisa beli lauk.”

Benarkah demikian? Mungkin tidak. Mungkin sebenarnya aku bisa saja tetap di rumah, bermain dan membelikan putriku donat seperti yang ia minta. Dan kami toh tetap bisa makan. Mungkin tidak berlebihan. Mungkin tak harus mewah. Tapi toh tak akan kekurangan. Takkan kelaparan.

Tapi aku tetap saja berangkat ke klinik. Kerja. Sekadar untuk mendapatkan uang tambahan, atau merasakan kenyamanan finansial.

Atau  untuk mencicipi rasa aman? Entahlah.

Catatan Januari 2003 : Nurcinta Zahida

anakku,

aku tahu, bahwa segala sesuatu itu milik Allah semata.

dan segalanya juga akan kembali.

tapi sungguh, bapak dan ibumu memang masih terus melakukan kesalahan manusiawi ini.

kami mencintaimu nak.

dan kami ingin kau sehat selalu.

jangan sakit. jangan susah. jangan sedih.

padahal sehat, kemudahan dan kebahagiaan, bukankah itu cuma mainan kanak belaka?

dan lagi : bukan kita yang punya.

tapi memang sulit untuk mendapatkan pencerahan sejati.

dan terus, kami terus mencintaimu.

padahal seperti juga nyawa di wadag  ini,  kau pun juga semu.

dan bukankah kekayaan sejati cuma satu : Allah semata?

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain main-main dan omong kosong belaka. Sungguh akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidaklah kamu memahaminya?” (al An’aam 32)

pasti cah ayu. pasti kau memahaminya. bukankah itu sebabnya kunamai kau Zahida ?

Flu Babi Di Tengah Arus Mudik (Jawa Pos, 27/9/09)

Artikel Flu Babi

TENGAH malam, seorang lelaki muda tergolek di tempat tidur IRD RSUD dr Soetomo. “Mas barusan dari luar negeri?” Dia menggeleng. “Pernah bertemu penderita flu babi?” Dia menggeleng lagi.

Kening saya mengerut, tercenung membaca surat rujukan dari sebuah RS di pesisir utara Jawa Timur. Suspect H1N1. Terapi: Oseltamivir 2 x 1 tablet. “Saya cuma karyawan di toko komputer,” gumam lelaki itu di balik masker penutup mulut.

Kerutan saya ternyata tak beralasan. Sebab, kecurigaan dokter spesialis paru yang mengirim pasien tersebut cukup akurat. Selang tiga hari kemudian, hasil hapusan tenggorok juga positif.

Begitu luaskah penyebaran virus flu babi di masyarakat? Tanpa perlu riwayat kontak dengan penderita flu babi atau bepergian jauh pun, tiba-tiba virus H1N1 bisa hinggap?

“Ya!” jawab ahli paru RSUD dr Soetomo Surabaya dr J.F. Palilingan SpP(K). Menurut dia, virus H1N1 sudah menyebar luas di muka bumi dan beranak pinak di masyarakat.

Itulah esensi sebuah kondisi pandemi. Secara ekstrem, jika hari ini seorang manusia menderita gejala flu, tak ada yang bisa menjamin dia bebas dari H1N1. Kecuali, sudah dibuktikan dengan pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) hapusan tenggorok.

Kalau begitu, bagaimana dengan jutaan manusia yang bergerak saat arus mudik? Tidakkah itu berarti mempercepat penyebaran virus H1N1 ke daerah yang semula dianggap “bersih” dari virus tersebut? Atau, haruskah kegiatan mudik ditiadakan.

“Tentu tidak,” kata dr Laksmi Wulandari SpP(K), ahli paru lain dari RSUD dr Soetomo, sembari tersenyum. Jawaban tersebut tentu melegakan para perantau yang rindu rumah, termasuk saya.

Sebab, meski virus itu mudah tersebar, angka kematian karena virus tersebut sangat rendah. Berkisar 0,4 persen. Itu sangat jauh bila dibandingkan dengan angka kematian karena flu burung yang mencapai 60-80 persen.

Sebuah artikel di New England Journal of Med edisi Juli 2009 menulis kalimat pendek yang bernas tentang kondisi pandemi influenza hari ini, “Sesungguhnya, dalam 91 tahun sejak 1918, kita selalu hidup di era pandemi.”

Dasar pernyataan itu, virus flu babi yang kini menyebar adalah keturunan virus flu yang merenggut nyawa 20 juta penduduk dunia pada 91 tahun lalu. Selama masa tidurnya, ia tak pernah sungguh-sungguh hilang. Syukurlah, meski penyebarannya makin mudah sekarang, ia makin jinak kepada induk semangnya. Tidak seperti kakek buyutnya dulu.

RSUD dr Soetomo Surabaya, sebagai RS rujukan, hingga saat ini mencatat 123 pasien yang pernah dirawat karena kecurigaan flu babi. Delapan puluh lima di antaranya positif dan emapt pasien meninggal. Secara nasional, pasien yang positif terjangkit H1N1 sebanyak 1.097 orang dengan sepuluh kasus kematian. Itu masih lebih sedikit daripada Thailand yang mencatat 14.976 kasus dengan 119 kematian atau Australia dengan 35.095 kasus dan 155 kematian.

Kondisi pandemik yang mau tak mau harus diterima itu menuntut perubahan paradigma terhadap penanganan H1N1. Terutama, bagi pakar kesehatan, pemegang kebijakan, dan klinisi. Apalagi, bagi negara dengan sumber daya terbatas seperti Indonesia.

Sebab, penyebaran H1N1 sudah begitu luas. Dengan begitu, manfaat yang didapat dari perawatan di rumah sakit dan konfirmasi positif tidaknya seseorang menderita flu babi menjadi kurang bermanfaat. Apalagi, sebagian besar kasus berhenti pada kondisi sakit ringan yang tak memerlukan perawatan di RS. Penting diketahui, biaya pemeriksaan PCR untuk memastikan diagnosis H1N1 hampir Rp 1 juta tiap kali pemeriksaan.

Karena itu, sesuai dengan pedoman dari WHO dan Departemen Kesehatan, institusi kesehatan kini dianjurkan untuk memperkuat triase atau pemilahan kasus. Mereka yang mengalami gejala ringan dapat beristirahat, lalu diisolasi di rumah. Pasien dengan gejala sedang hingga berat dirawat di rumah sakit sembari dibuktikan ada tidaknya infeksi H1N1.

Pertanyaan yang sering timbul, apa yang harus dilakukan masyarakat? Menurut Depkes RI, cara efektif untuk mencegah tertular H1N1 adalah menjaga kondisi tubuh tetap sehat dan bugar. Yakni, makan dengan gizi seimbang, beraktivitas fisik/berolahraga, istirahat cukup, dan sering mencuci tangan dengan sabun.

Bagaimana jika kita terserang gejala flu seperti batuk, pilek, nyeri tenggorok, dan demam ringan? Haruskah kita minta obat antivirus H1N1 kepada dokter? Tidak. Anjuran terbaik adalah istirahat dan mengisolasi diri di rumah, minum obat flu, serta melakukan etika batuk dan bersin yang baik agar tak menulari orang lain. Tutuplah mulut dan hidung saat batuk dan bersin. Pakailah masker penutup mulut. Sering-seringlah mencuci tangan dengan sabun. Mereka yang mengalami gejala seperti itu termasuk kategori kasus ringan yang tidak memerlukan perawatan. Juga, tidak memerlukan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan ada tidaknya infeksi H1N1.

Lain halnya jika gejala memburuk. Pemburukan itu sering disebabkan adanya koinfeksi dengan bakteri lain yang menyerang saat daya tahan tubuh terganggu. Yang rentan adalah bayi, usia tua, wanita hamil, penderita kencing manis, gangguan jantung, kelainan ginjal, kegemukan, dan penderita asma.

Gejala pemburukan yang paling sering terjadi adalah sesak napas dan demam tinggi tak kunjung turun. Beberapa pasien mengalami batuk darah, batuk dengan riak kental kekuningan, bahkan penurunan kesadaran mendadak, dan shock. Jika gejala itu muncul, segera ke fasilitas medis terdekat.

Flu babi mencatat angka kematian tinggi di Meksiko karena keterlambatan mencari pertolongan medis. Itu tidak boleh terjadi di Indonesia.

Selagi semangat Ramadan belum hilang, mari kita berdoa dan berpikir positif agar virus itu terus bermutasi menjadi virus yang lebih jinak. Bukankah Allah SWT berfirman, “Aku menurut sangkaan hamba-Ku kepada-Ku.”

Perahu Kertas

Perahu Kertas

Perahu Kertas. Bagiku, buku ini mengingatkanku pada impian-impian masa kecil. Sesuatu yang seringkali kita lupakan. Padahal, seperti kata Keenan, “ Jalan kita mungkin berputar, tapi satu saat, entah kapan, kita pasti punya kesempatan untuk jadi diri kita sendiri.”

Kalimat itu menusukku dalam. Melihat diriku sendiri, terasa ada hal-hal yang hari ini harus aku kompromikan demi kelangsungan hidup. Demi situasi yang disebut : realita. Namun, selalu ada yang tak boleh dilupakan. Bagi Keenan itu adalah impian menjadi pelukis, bagi Kugy itu adalah cita-cita menjadi penulis dongeng. Bagiku, itu adalah cita-cita untuk menolong, memberi inspirasi, membuka  jalan, membagi semangat dan keberanian bermimpi, pada lebih banyak orang.

Perahu Kertas memang tak se‘berat’ novel Dee yang dulu. Ia lebih ‘muda’. Tapi dengan liku-likunya kita diajak berkaca pada labirin cinta yang berkabut. Pusaran energi antara Keenan, Kugy, Remi dan Luhde.

Lantas pada akhirnya, kejujuran hatilah yang menang. Mungkin menyakitkan, namun pada akhirnya lebih menentramkan. Setidaknya, agar kita tak hidup dalam kepalsuan.

Kepalsuan sebuah hubungan. Kepalsuan sebuah karir. Kepalsuan rasa bahagia. Kepalsuan hidup. Bukankah sebagian kita tenggelam di dalamnya?

Here the synopsis..

Pulang.

Masjid Agung Kendal

Pulang. Bagiku, pulang adalah langkah untuk memetakan dan memahami apa yang kulakukan hari-hari ini.

Termasuk sore kemarin, sehari sebelum Lebaran, saat aku shalat Magrib di Masjid Kendal setelah nyekar almarhum Eyang di makam Kuncen, Kalibuntu Wetan.

Sudah lebih 20 tahun berlalu. Saat-saat aku bersekolah di SMP 1 Kendal. Hari-hari ketika aku mulai belajar tentang tasawuf, dan tiap kali istirahat  siang, kubawa sarung untuk menyambanginya. Duduk dan merasakan dingin lantainya.

Ajaran Imam Ghazali begitu merasukiku. Terutama tentang seluk beluk zuhud. Aku ingat, aku pernah menulisnya di cermin. Zuhud, yang terdiri dari 3 perkara. 1. Tidak senang saat mendapat dunia. 2. Tidak sedih saat ditinggalkan dunia. 3. Tidak sibuk dengan dunia hingga lupa kepada Allah.

Kini aku telah begitu jauh. Selain nama anakku yang pertama, Zahida(perempuan yang zuhud), lelaku zuhud tak lagi berbekas dalam diriku. Dunia telah sungguh menelanku dalam-dalam.Terlalu dalam hingga kini harus berpikir dan bertanya.

Apa yang telah kulakukan selama 20 tahun ini? Benarkah telah sungguh bermakna? Bagaimana jika tidak? Akankah aku akan mendapat 20 tahun berikut?

Pulang. Sungguh aku ingin pulang…

Hujan Selalu Mengundang Rasa Sendu

hujan

Hujan selalu mengundang rasa sendu. Gerimis cinta, suamiku menyebutnya demikian. Beribu impian ditabur dari langit, tak satu tertangkap. Selain ia tentu saja. Yang kemudian berbasah-basah menjemputku di halaman kantor, sekadar menggerak-gerakkan tumpukan kangen yang lembab.

”Mas nggak berangkat?” Matahari mulai sembunyi di langit. Seharusnya suamiku ini masuk jaga sore di UGD rumah sakit swasta.

”Ada pemecatan massal. Kata Pak Direktur, rumah sakitnya rugi,”katanya pelan. Segera wajahku berubah muram. Tapi ia terlihat biasa saja. ”Nggak usah dipikirlah. Mungkin Pak Direkturnya lagi butuh duit.”

Tapi kita juga butuh duit, kataku dalam hati. Apa 210 ribu honor jasa medik PT.Askes yang ia terima tiap bulan dari rumah sakit pemerintah itu cukup? Kadang aku merasa ia terlalu yakin. ”Tulisan ada yang dimuat Mas?”

Masih menatap jalan, ia menggeleng datar. Wajah datar itu masih tetap menempel di pipi saat sepeda motor tua kesayanganmu berhasil hidup. Meski masih agak ngungun gara-gara kabar tentang pemecatanmu, aku naik juga ke boncengan.

”Berapa kali ia mogok?,”tanyaku dulu saat pertama kali naik. ”Kamu akan tahu,”. Yah, setelah hampir lima tahun bersama, setidaknya sebulan sekali kami harus mendorongnya. Tentu saja aku tak ikut berpeluh. Hanya ia yang berjuang sambil tiap kali mengumpat marah.

Perjalanan dari kantor ke rumah kontrakan yang baru ternyata begitu cepat. Rumah kecil di gang kelinci itu tampak lengang. “Anak-anak pasti sedang tidur,” gumamnya lirih.

Karena gerimis tak berhenti jua, motor naik ke teras yang tampak sempit diisi motor tua, tempat sampah, sepatu berceceran dan sapu tua di sudut.

Cinta, Lintang dan Langit, ketiganya perempuan sainganku dalam merebut perhatian suamiku, tidur di kamar, di atas kasur yang diletakkannya begitu saja di atas lantai. ”Itu membuat kita tak repot saat pindah-pindah rumah,” katanya padaku dulu. Dan sejak itu, tak pernah ia membeli tempat tidur meskipun sudah beranak-pinak seperti sekarang.

Jangan tanya tentang kursi tamu, meja, apalagi lukisan penghias dinding. Rumah cuma berisi barang-barang yang sungguh-sungguh bermakna buat hidup. Selain buku tentu saja. Bukulah harta kami satu-satunya. Ia kadang minta maaf padaku tentang hal ini, dan entah kenapa aku selalu memaafkan kebadungannya.

Padahal aku sebenarnya orang rumahan, bukan tipe yang senang jauh dari orang tua ataupun berpindah-pindah macam kucing. Tapi beginilah akhirnya jika seorang perempuan mencintai, lantas menikahi seorang dokter weng*. Ia berganti rumah dan kota sesukanya, tergantung pekerjaan dan macam hidup yang ingin dilakoninya.

Bagi diriku sendiri hidup semacam ini cukup sulit dijalani. Apalagi dengan dua anak balita dan seorang bayi yang butuh susu. Akhir-akhir ini aku sering sakit kepala, yang ia pasti akan menyebutnya psikosomatis belaka. Memang tak mudah menjadi diri sendiri. Terutama saat tercerabut dari akar yang membesarkan kita. Begitu penjelasannya suatu hari.

Dulu aku tak percaya saat ia memutuskan meninggalkan tawaran kemapanan sebagai pegawai negeri sipil (PNS) dan malah memilih kehidupan sulit ini.

“Mas, wis dipikir tenan to?

Wis.”

“Mas lebih pilih sekolah spesialis?”

He eh.”

“Katanya lima tahun Mas?”

He eh, mungkin lebih.”

“Dapat gaji nggak?”

“Nggak. Paling honor jasa medik.”

”Lantas kita hidup dari mana?”

”Ya dari Gusti Allah to.”

Ya sudah. Sebagai istri aku tak banyak bertanya lagi. Dan akhirnya kami pun pindah dari kota kecil tempat kau menjalani PTT ke kota besar tak ramah ini, hanya gara-gara cita-cita ingin jadi spesialis. “Kita ini ibnu sabil dan musafir sekaligus. Karena sekolah spesialis itu kan fardu kifayah.”katanya suatu hari. Lha kalau ibnu sabil atau musafir, harusnya dapat bagian zakat, jawabku dalam hati.

Tapi tentu saja kami tak mungkin mendapat bagian zakat, dan akibatnya hidup rasanya jadi makin susah. Apalagi setelah kau di-DO dari UGD rumah sakit swasta itu. Kadang-kadang ia memang dapat job gantikan praktek dokter lain atau transfer honor dari tulisan yang dimuat, tapi itu insidentil.

“Kan kita masih punya tabungan?”tanyanya sok yakin. Tapi tidakkah lama kelamaan ia habis?

“Yah, setidaknya kan kamu masih punya gaji tetap,”katanya di hari yang lain. Tapi, apa itu cukup?

“Mas, susunya Langit tinggal hari ini.” Pertanyaanku tadi benar-benar terjawab. Sore itu aku benar-benar pusing karena gaji bulananku sudah habis, dan  saat itu baru tanggal 20! Ia mengangguk kecil.

“Sore iki tak golek duwit.” Darimana? tanyaku dalam hati. Ia tak cerita tentang tawaran untuk menggantikan praktek, dan sepertinya tulisannya belum ada yang dimuat lagi. Tapi aku diam. Setelah berkata itu ia pergi, entah kemana.

Menjelang isya ia pulang. Wajahnya terlihat cerah. Dicabutnya dompet dan uang seratus ribu keluar dari sana. ”Ini buat beli susu.” Di tanganku uang itu terasa panas.

”Duit darimana Mas?”

Ia terdiam. Lama. Lantas tersenyum. ”Sing penting kan entuk duit.”

”Halal?” Senyum itu makin lebar. ”Halal banget. Wong asalnya dari hape-ku kok,” katanya sambil tertawa keras. Ditunjukkannya selembar bon penjualan handphone.

Pemandangan itu menyengat saraf tawaku juga. Aku ikut tertawa. Walah, dasar suamiku weng! Senja itu kami terbahak hingga berderai air mata. Menertawakan diri sendiri, menertawakan hidup. Katrok, katrok…

Tapi dalam hati aku berdoa, semoga setelah ia lulus jadi spesialis, kegilaannya tidak berubah. Karena itulah yang membuatku mencintainya.

Dasar weng*!

*weng = ejekan akrab dalam bahasa jawa, berarti agak-agak gila.

Kunci Sukses dan Bahagia Tidak Terletak Pada Kerja Keras Semata…

Barusan membaca lagi buku Ernie J Zelinski. Ada cerita bagus yang hari2 ini terlupa, padahal kurasa itu kunci sukses sekaligus bahagia. :)

A wealthy entrepreneur from New York went on a two-week seaside holiday on the coast of Costa Rica. On his first day there, he was impressed with the quality and taste of the exotic fish he bought from a local fisherman. The next day, the American encountered the native Costa Rican at the dock, but he had already sold his catch. The American discovered that the fisherman had a secret fishing spot where the fish were plenty and the quality superb. However, he only caught five or six fish a day.

The New Yorker asked the local fisherman why he didn’t stay out longer at sea and catch more fish.

“But Senor,” the fisherman replied, “I sleep in late until nine or ten every morning; I play with my children; I go fishing for an hour or two; in the afternoon I take a one- or two-hour siesta; in the early evening I have a relaxing meal with my family; and later in the evening, I go to the village and drink wine, play guitar, and sing with my amigos. As you can see, I have a full, relaxed, satisfying, and happy life.”

The American replied, “You should catch a lot more fish. That way you can prepare for a prosperous future. Look, I am a businessman from New York and I can help you become a lot more successful in life. I received an MBA from Harvard and I know a lot about business and marketing.”

The American continued, “The way to prepare for the future is to get up early in the morning and spend the whole day fishing, even going back for more in the evening. In no time, with the extra money you could buy a bigger boat. Two years from now, you can have five or six boats that you can rent to other fishermen. In another five years, with all the fish you will control, you can build a fish plant and even have your own brand of fish products.”

“Then, in another six or seven years,” the American continued while the Costa Rican looked more and more bewildered, “you can leave here and move to New York or San Francisco, and have someone else run your factory while you market your products. If you work hard for fifteen or twenty years, you can become a multi-millionaire. Then you won’t have to work another day for the rest of your life.”

“What would I do then, Senor?” responded the fisherman.


Without any hesitation, the wealthy American businessman enthusiastically replied, “Then you will be able to move to a little village in some laid-back country like Mexico where you can sleep in late every day, play with the village children, take a long siesta every afternoon, eat meals while relaxing in the evening, and play guitar, sing, and drink wine with your amigos every night.”

So, kunci sukses dan bahagia tidak terletak pada kerja keras semata.  Tetapkan tujuan hidup, lantas cari jalan paling efisien tanpa harus mengorbankan hal2 penting lain dalam hidup. Seperti waktu bercanda dengan keluarga, jemputan pertama  saat si kecil pulang sekolah, kesehatan, juga hobi jalan2 bersama istri tercinta.

Lantas maksimalkan waktu yang kita gunakan dengan melakukan apa yang sungguh2 kita kuasai dan  sukai, bukan untuk hal-hal yang tidak dikuasai dan tidak disukai.

Good luck!

Lazy Persons Guide

Ramadan yang Menyembuhkan (Jawa Pos, 23/8/09)

Ramadan

Hidup seorang muslim bergerak dari Ramadan ke Ramadan. Laiknya seorang pengembara, Ramadan adalah mata air, oasis berpohon rindang. Penuh khusyuk, seorang muslim berharap kesembuhan dari penyakit hati. Termasuk gejala mental disorder yang diam-diam terpelihara. Tumpukan stres, depresi, cemas, iri, prasangka, permusuhan, kemarahan, juga degradasi kecerdasan emosional dan spiritual saat menjalani hidup di luar bulan suci.

Namun, meski bertemu mata air Ramadan, menjadi “lebih baik” bukan berarti akan mudah. Sebuah penelitian pada 2000 yang dimuat majalah Psychosomatic Medicine menemukan, pada bulan Ramadan, pria muslim Maroko yang berpuasa lebih mudah tersinggung. Tingkat kecemasan juga meningkat. Tingkat iritabilitas (irritability) dan kecemasan tertinggi terjadi pada mereka yang memiliki kebiasaan tak sehat: merokok.

Mengapa? Secara medis, peningkatan rasa tak nyaman itu diduga disebabkan oleh perubahan pola tidur dan makan yang terjadi secara mendadak. Apalagi bagi perokok. Timbullah gejala withdrawal yang mengejutkan, membuat perjuangan untuk berhenti menjadi lebih berat.

Dari tataran ilmu hati, peningkatan kecemasan dan irritability pada penelitian tersebut mungkin terjadi karena sebagian besar di antara kita meletakkan diri pada kenyamanan syariat. Puasa hanya berhenti pada pantang makan, minum, dan seks. Puasa dibingkai pada pemindahan waktu.

Ah, betapa sengsaranya tubuh yang biasanya dimanja berbagai nikmat dunia. Padahal, jika kita berusaha menembus lebih jauh dengan mata hati, sebenarnya ada cahaya yang ditawarkan Ramadan.

Cahaya itulah yang kebanyakan terlewat. Tak kurang-kurang penduduk muslim di negeri ini berpuasa. Tak pernah susut minat manusia untuk bertarawih. Tak kurang gencar suara azan, pengajian, dan kuliah subuh dari pengeras suara masjid. Bertubi-tubi pula ceramah agama di televisi.

Namun, tiap hari, sepanjang tahun, ada saja berita tentang anggota dewan (sebagian dari parpol bernapas Islam) dan pejabat yang diperkarakan karena korupsi. Selalu ada juga kabar tentang kemiskinan, ketidakadilan, dan kesewenang-wenangan.

Padahal, Rasulullah adalah manusia paling welas asih yang kita kenal. Lantas, ke mana semua berkas cahaya Ramadan bertahun-tahun itu berlalu? Mungkinkah kita termasuk dalam orang yang disebut Rasulullah Banyak orang yang berpuasa, hasilnya hanya lapar dan dahaga?

Tawaran berkas cahaya Ramadan yang kita lewatkan tak hanya berhenti pada jiwa seorang muslim. Sebenarnya, Ramadan juga menawarkan perbaikan pada keselarasan tubuh manusia. Sebuah penelitian di Turki menemukan terjadinya penurunan angka serangan jantung di bulan Ramadan. Salah satu hipotesisnya adalah puasa seharusnya memberikan efek penenang jiwa. Bukan efek cemas seperti penelitian sebelumnya.

Suatu kali pada Ramadan, Rasulullah menegur seorang perempuan yang tengah memaki hamba sahayanya. “Makanlah roti ini,” ujar Nabi ramah sembari menyodorkan sepotong roti. “Mana mungkin aku memakannya ya Rasul, padahal aku sedang berpuasa?” ucap perempuan itu. Dengan bijak Rasul berkata, “Mana mungkin engkau berpuasa, padahal kau mencaci maki hamba sahayamu?”

Jiwa seorang muslim yang berpuasa akan menjauhi amarah dan permusuhan. Ketenangan batiniah itu akan memengaruhi tubuh, meningkatkan kinerja saraf parasimpatik, dan mengurangi pelepasan kortisol atau zat stres dalam tubuh. Ujungnya adalah penurunan denyut nadi, tekanan darah, dan beban jantung. Titik akhirnya adalah penurunan risiko serangan jantung.

Risiko serangan jantung dan stroke, penyebab kematian terbanyak di negeri ini, juga bisa dikurangi dengan iktikaf di bulan Ramadan, satu metode meditasi spiritual yang ditawarkan Islam. Iktikaf, menurut Gus Mus, adalah cara yang diwariskan Nabi dan para mukmin untuk bertafakur, bersendiri dengan Allah.

Dalam lingkup kesehatan mental, meditasi spiritual terbukti lebih superior daripada meditasi sekuler dan teknik relaksasi yang tak menghubungkan manusia dengan Tuhan. Meditasi jenis ini akan mengurangi tingkat kecemasan, stres, dan depresi.

Penelitian pada manusia dan hewan menunjukkan, faktor psikologis berperan penting dalam peningkatan risiko dan perburukan penyakit jantung. Itu terlihat dari analisis atas 23 penelitian pada 1996. Pasien penyakit jantung yang mendapatkan terapi psikologis mengalami 41 persen penurunan risiko kematian jika dibandingkan dengan mereka yang tidak.

Meski iktikaf tidak termasuk terapi psikologis yang diteliti, metode kontemplasi itu tak kalah manjur. Terutama jika kita tak lupa mengedepankan rasa syukur kepada Allah. Satu metode yang akan membuat hati tenteram dan berefek menenangkan.

Almarhum Nurcholis Majid dalam buku lama Pintu-Pintu Menuju Tuhan menyebut puasa sebagai satu-satunya ibadah yang bersifat rahasia dan karena itu menjadi “milik Tuhan” semata. Seorang muslim yang tengah berpuasa, meski tidak sedang beriktikaf di masjid, sebenarnya tengah menyadari sepenuhnya kehadiran Allah dalam hidupnya, di mana saja dan kapan saja.

Ingatan itu akan melahirkan kejujuran dalam berpuasa. Kejujuran dan dialog dengan Allah yang berlangsung sejak fajar hingga senja itu, jika diolah dengan baik, seharusnya bisa menciptakan rasa berserah diri, surrender, kepada Tuhan. Keyakinan penuh bahwa Allah Mahatahu yang terbaik untuk kita. Ibn Atha’illah dalam Al Hikam berkata, “Tiada suatu napas berembus darimu, kecuali di situ takdir Tuhan berlaku padamu.”

Itulah cahaya Ramadan yang harus kita raih. Yakni, tingkat “sadar” yang sepenuhnya terhadap kehadiran Allah dalam hidup, juga penyerahan diri dan keikhlasan kepada segala takdir-Nya. Cahaya itu akan selalu membuat kita tersenyum, memandang sisi positif hidup, dan akhirnya Ramadan benar-benar menyembuhkan jiwa dan tubuh kita. Insya Allah.

Bahagia Itu Pilihan

ada hal2 yang harus kita ingat.
ada hal2 yang harus kita lupakan.
untuk itu, cara termudah untuk hidup adalah menikmati hidup itu sendiri.
saat ini.
karena dengan fokus pada detik ini, tak ada hal2 yang mesti kita ingat. dan tak ada hal2 yang mesti kita lupakan.
lantas, ketika kekinianmu telah membuncah, mulailah bergerak, senatural mungkin, untuk membuat impian2mu jadi nyata. tak harus selalu lompatan besar, karena lompatan besar selalu dimulai dari langkah kecil.
lantas, selesaikanlah apa yang telah kau mulai.
itu saja.
oya, selama menyelesaikan apa yang kau mulai itu, tetaplah merasa berbahagia.
karena bahagia itu pilihan.
bukan sesuatu yang tergantung dari ada tidaknya seseorang, ada tidaknya sesuatu, atau terjadi atau tidaknya satu peristiwa.
bahagia itu pilihan.
dan kita semua berhak untuk itu.

Tak Ada yang Abadi

Sejak pulang dari Bontang, lagu Peter Pan, Tak Ada yang Abadi menghantui hidup.  Tapi memang tak ada yang berakhir selamanya…

Jadi akhirnya tiap kali bangun tidur, kuputuskan untuk sungguh-sungguh menikmati hari ini,  lantas menciptakan hari terindah. Hari terbaik untuk dikenang.

Siapa tahu besok hilang ke alam keabadian…

Menciptakan hari terindah

Pernahkah Kau Jatuh Cinta Lagi?

Aku pernah. Ia seseorang yang cantik, bahkan dalam beberapa waktu, terutama saat aku bertengkar dengan istriku, tampil sangat cantik. Mempesona malah.
Setiap kali bersamanya aku tak ingin pergi kemana-mana. Apalagi jaga di rumah sakit. Berat sekali buatku untuk berpisah.

Hal ini sungguh terasa saat aku harus berangkat ke Bontang bulan Juni kemarin. Di sana, setiap kali aku sedih aku mengingatnya. Memandangnya wajahnya dalam foto membuatku sedikit lupa pada duka dunia.

Kau ingin tahu nama perempuan itu? Nama perempuan itu Langit.

L A N G I T.

Untuknya, aku berterima kasih pada Gusti Allah,  karena telah menurunkan keindahanNya ke bumi.

Langit di Pantai

Everything is wonderful

fearless

Habis nonton film lama di jaringan tv kabel Max. Judulnya Fearless, yang main Jeff Bridges. Film yang bagus. Ini sinopsisnya dari Wikipedia.

Max Klein is a survivor of a plane crash. Many die, including his business partner. The trauma transforms his entire life. He enters an altered state of consciousness; soon after the crash he even thinks he is dead, and begins rethinking life, death, God, and the afterlife. Existential questions start to preoccupy his life. He moves away from his wife, son, and friends but, encouraged by an aircraft company psychiatrist, he tries to break the depression and apathy of another survivor, Carla Rodrigo, who lost her baby son during the flight. Eventually Max’s increasingly dramatic attempts at pushing the boundaries between life and death succeed in jolting Carla from her uncertain state. However, after parting company with Carla, Max remains preoccupied, which endangers his relationship with his wife and son. Max has another, more serious near-death experience after eating strawberries, to which he has a severe allergic reaction. He survives and (it is implied) he recovers his emotional connection to his family and the world.

Tapi yang terbaik adalah kata-kata Max Klein(Jeff Bridges) pada seorang anak saat pesawat yang mereka tumpangi hendak mendarat darurat dan kemudian ternyata pecah berkeping-keping.

“Everything is wonderful”

Berkaca pada hidupku, ternyata aku belum sampai ke sana.  Ke titik ’surrender’ sepenuhnya.

But, I’ll be there soon….

Memaafkan. Berpasrah diri. Menerima takdir.

Wall paperku hari ini. Amin.

menerima takdir

Susu Sapi dan Hari Bakti Dokter (Jawa Pos 24 Mei 09)

Susu Sapi di Jawa Pos

Sungguh menarik tulisan Pak Dahlan Iskan berjudul Susu Sapi Bukan untuk Manusia (JP, 15/5/09). Menggelitik dan mengundang kontroversi. Yang pasti, tulisan itu membuat sebagian pembaca membeli buku Prof Hiromi Shinya, The Miracle of Enzyme. Termasuk saya.

Pubmed, mesin pencari artikel ilmiah dari perpustakaan nasional Amerika, menghasilkan 40-an artikel ilmiah tulisan Prof Hiromi. Sebagian besar tulisan itu mengulas kolonoskopi, penyakit usus besar, dan masalah medis pencernaan lain.

Namun, tak satu pun artikel ilmiah beliau di Pubmed yang terkait susu dan daging sapi. Tak ada juga topik gizi lain. Artikel ilmiah yang menghubungkan jenis makanan dan kondisi pencernaan pasien pun tak ada.

Timbul pertanyaan, apakah pernyataan beliau tentang susu sapi itu betul-betul didasari data ilmiah yang telah teruji secara statistik? Atau itu semua berdasar pengalaman klinis dan asumsi semata?

Seorang petugas KPK dan koruptor bisa saja ditemukan sama-sama berada di padang golf. Tapi, apakah keberadaan petugas itu karena diundang koruptor, mengawasi koruptor, atau sekadar kebetulan berada di tempat yang sama? Atau, ada faktor lain? Bertemu caddy yang sama, misalnya.

Begitu pula halnya dengan susu. Hingga saat ini belum ada kata sepakat tentang manfaat dan bahaya susu sapi bagi manusia. Pihak yang pro, termasuk sebagian besar ahli gizi, menyebut berbagai penelitian yang positif. Subjek yang minum susu berisiko stroke dan serangan jantung lebih rendah, lebih jarang mengalami hipertensi, dan lebih terlindungi dari patah tulang pada usia tua.

Sebaliknya, pihak yang kontra menyebutkan hasil penelitian yang negatif. Antara lain, susu sapi dicurigai sebagai pencetus diabetes pada anak dan dewasa, sering terjadi reaksi intoleransi dan alergi, serta ada peningkatan risiko kanker prostat pada subjek yang banyak minum susu.

Namun, belum ada publikasi ilmiah yang menyatakan susu menyebabkan usus menjadi “jelek”. Buku Prof Hiromi, yang tidak bisa dikatakan artikel ilmiah murni karena banyak asumsi di dalamnya, adalah satu-satunya sumber pernyataan tersebut. Bisa saja itu benar, ada sebab akibat antara susu dan kondisi pencernaan manusia yang “jelek”. Tetapi, bisa saja kesimpulan tersebut berlebihan. Susu mungkin bermanfaat pada kondisi tertentu, mungkin juga tidak.

Jadi, berikan ASI kepada bayi Anda. Jangan paksa anak minum susu sapi jika dia tak suka. Gantilah sumber kalsium dari buah dan sayur. Namun, jika suka dan tak ada efek samping, biarkan dia minum susu sapi. Menurut saya, hukum susu sapi dari sudut pandang medis adalah boleh alias mubah.

Orang besar memang selalu punya ide dan pandangan berbeda. Tugas mereka menginspirasi dan membuat orang berpikir. Prof Hiromi dan Pak Dahlan melakukannya dengan baik. Salah satunya adalah kalimat Pak Dahlan tentang pandangan Prof Hiromi terhadap dunia kedokteran.

“Dokter melihat pasien hanya dari satu sisi di bidang sakitnya itu. Jarang dokter yang mau melihatnya melalui sistem tubuh secara keseluruhan. Dokter jantung hanya fokus ke jantung. Padahal, penyebab pokoknya bisa jadi justru di usus. Demikian juga dokter-dokter spesialis lain. Pendidikan dokter spesialislah yang menghancurkan ilmu kedokteran yang sesungguhnya.”

Kalimat terakhir itu sangat mencubit. Cubitan yang makin terasa karena 20 Mei lalu adalah Hari Bakti Dokter Indonesia. Cubitan yang membutuhkan perenungan.

Benarkah pendidikan dokter spesialis menghancurkan ilmu kedokteran? Bukankah sistem pendidikan dokter di Amerika termasuk salah satu yang terbaik di dunia? Kenyataannya, dunia medis Amerika kebanjiran dokter spesialis. Perbandingan dokter umum dan spesialis di Amerika 2 : 1. Itu memicu kritik.

Pendidikan kedokteran di Amerika dianggap kurang berhasil mendorong lulusannya mendalami etika, hambar dalam pemahaman manusiawi pada pasien penyakit terminal, dangkal nuansa spiritual dan agama, serta berlebihan dalam penggunaan teknologi. Padahal, ilmu dan teknologi tanpa jiwa dan empati tidak hanya tak efektif dan mahal, tapi juga berbahaya.

Bagaimana di Indonesia? Dengan perbandingan dokter umum dan spesialis 5 : 2, dunia medis Indonesia masih butuh banyak dokter spesialis. Namun, pendidikan dokter spesialis tidak seharusnya membuat penyelenggara pendidikan kedokteran melupakan esensi penting dokter keluarga. Bagaimanapun, tujuan utama kita adalah menyehatkan masyarakat, bukan sekadar menyembuhkan seseorang dari sakit. Itu hanya bisa dicapai dengan dokter keluarga yang kompeten, percaya diri, bergaji cukup, dan berwawasan luas.

Agar tidak terjebak pada lubang yang sama seperti Amerika, alangkah baiknya jika fakultas kedokteran di Indonesia senantiasa mendorong muridnya untuk mendekati pasien secara holistik. Seperti sepotong kalimat almarhum Prof Boedhi Darmojo, ahli penyakit dalam dan jantung yang bijak, saat memulai kuliah awal tahun. “Nak, medicine is science and art.”

Kemajuan ilmu dan teknologi harus diimbangi maturitas jiwa, soul, seorang dokter. Keputusan medis tidak bisa direduksi semata pada pertimbangan empiris. Seorang dokter seharusnya berusaha mengenal pasiennya sebagai seorang pribadi.

Seorang dokter dari Inggris, S.G. Jeffs, puluhan tahun lalu menulis hal mendasar yang seharusnya tidak dilupakan. ”… You have patients who are human beings with feelings and emotions who often have a greater dignity and self-respect than you possess yourself.” Mungkinkah hal itu terwujud dalam dunia modern yang makin asing dan sibuk? Semoga.

The Funny Thing About Human Beings

* “What is the human being’s funniest characteristics?”

**”Our contradictoriness.
We are in such a hurry to grow up, and then long for our lost childhood.
We make ourselves ill earning money, and then spend all our money on getting well again.
We think so much about the future that we neglect the present, and thus experience neither the present nor the future.
We live as were never going to die, and die as if we had never lived.”

In my cases :
These years. almost everyday  I spend more than 12 hours  away from my girls, and then, when I’m getting older and should stay, may be my girls were at home no more.
No. I will let that happen no more.

(Like The Flowing River, Pulo Coelho)

Maafkan Bapak…

sabar pak..Cinta, maafkan Bapak karena Bapak sering marah padamu.

Maafkan juga bapakmu ini karena kadang Bapak  lupa, bahwa kau telah rela mengikuti perjalanan hingga ke Surabaya, padahal Cinta bisa saja tetap tinggal di kampung halaman.

Maafkan Bapak  karena sering  lupa menepati janji untuk meluangkan lebih banyak waktu denganmu.

Cinta, maafkan Bapak ya Nak, karena Bapak juga sering lupa bilang, bahwa Bapak menyayangimu.

Pak, biarkan aku bermain hingga basah Pak..

Garengpung

aku selalu menyukainya. entah kenapa. mengingatkanku pada suasana desa.dulu di jaman masa kecilku.
kemarin, saat aku pergi ke gonoharjo, kecamatan limbangan, kendal, aku mendengarnya.

kini, hidup di tengah matahari surabaya yang menyengat, aku merasa ada hal2 yang belum tercapai. namun di balik itu semua, sungguh banyak hal yang pernah diberikan oleh hidup padaku.

mulai dari hidup itu sendiri, anakku2, bidadari2 kecilku,  kesempatan untuk sekolah, menolong orang, membuat mereka bahagia.

aku tahu, tak seharusnya aku nggresulo pada apa yang kucapai.
pada apa yang kumiliki.

di tengah suara garengpung, aku kembali  berpikir, setidaknya : beruntunglah aku karena masih bisa mendengarnya.
aku tahu, ada banyak orang yang jauh lebih tak beruntung dibandingkan aku.

di rumah sakit, aku melihatnya setiap hari.
garengpung