Normal Life..

Satu hari aku berkata pada seorang teman. “Back to your normal life..”

Tapi hari ini aku bertanya pada diri sendiri. Adakah hidup yang normal itu? Tidakkah sebagian besar peristiwa yang kini kita jalani adalah pilihan sadar?  Dan karenanya segala sesuatu yang terjadi adalah konsekuensi dari hal-hal yang kita pilih di masa lalu?

Kadang aku berpikir, kalau saja mesin waktu bisa kuputar, bagian mana dari hidup yang ingin kuubah? Jalan mana yang ingin kutempuh lagi, jalan mana yang ingin kuhindari? Sayangnya, jawaban pertanyaan itupun tak berguna. Cuma sekedar mengorek luka.

Akhirnya, mungkin memang tak ada  hidup yang normal. Sekaligus tak ada hidup yang tak normal. Yang ada cuma kini yang nyata. Setumpuk pilihan segera. Hidup cuma sekali. Untuk itu mesti berarti. Entah normal atau tidak, tak peduli.

Hanya saja, seperti kata Musashi

“Aku takkan melakukan sesuatu yang akan kusesali.”

Kapan aku sampai ke titik itu sensei?

musashi

Tentang Surga

Suatu sore, setelah ngobrol ngalor ngidul, termasuk tentang Pakde Ketut, tetangga depan rumah yang kadang pergi ke Pura, Cinta bertanya.

”Pak, apa orang-orang yang beragama Kristen, Hindu, dan Budha juga akan masuk surga?

Istriku terdiam. Memandangku, mencari bantuan.

Setengah berbisik aku bilang, ”Nduk, nanti saja kita bicarakan lagi. Biar Bapak pikir dulu.” Untunglah anak pertamaku sangat pengertian. Ia mengangguk. Duh, lega rasanya.

Pertanyaan itu juga telah lama tersimpan dalam pikiranku.

Oya, aku tentu saja bukan pakar agama. Bahkan pernah aku tersandung batu gara-gara tak sengaja mengutip ayat Gusti Allah yang tak kuketahui tafsirnya secara utuh.

Namun perbedaan pendapat antara mereka yang mendukung pluralisme agama, satu pemikiran yang kumaknai sebagai  ”Semua anak sungai, akhirnya bermuara ke laut jua” dan mereka yang menentangnya telah lama kuketahui.

Setelah bermenung ria dan mencoba mendengarkan suara hati, malam itu menjelang tidur, dalam temaram lampu ruang tengah yang menerobos pintu kamar, aku berbisik pada Cinta.

”Nduk,  menurut Al Qur’an dan hadits Nabi yang Bapak pernah baca, asalkan kita masih percaya pada Allah dan Nabi Muhammad, setiap muslim ’akhirnya’ akan masuk surga.”

”Lalu bagaimana dengan mereka yang bukan muslim?” Aku berhenti sebentar, menarik napas panjang.

“Nduk, yang memiliki surga itu bukan kita, tapi Gusti Allah. Jadi ya terserah Allah saja. Biar Allah yang memutuskan. Gimana? ”

Anakku mengangguk dan tersenyum, wajahnya kelihatan marem pada penjelasan bapaknya.

Malam makin larut. Malam itu adalah salah satu tidur yang nikmat dalam hidupku.

-Ini jelas bukan foto surga. Ini foto di depan rumah dinas di Grabag, Magelang, saat Cinta masih bayi. Wonderful memory…-

10028

Menukar Hidup

Hari ini aku melihat seseorang hendak menukar hidupnya dengan sesuatu. Entah apa. Mungkin untuk mendapatkan uang, memiliki pekerjaan, menunjukkan kesetiaan, atau mungkin sekadar cinta.

Ia, lelaki itu, dengan sepeda motornya, menyalip truk di depan, saat dari arah sebaliknya sebuah bus kota jurusan jembatan merah-sidoarjo melaju tak kalah kencang.

Nyaris. Mungkin tinggal beberapa sentimeter saja, ia hampir menukar hidupnya dengan celaka,  kematian. Kematian demi tak terlambat ke tempat kerja, segera sampai rumah, atau sekadar memenuhi janji, menyenangkan seseorang yang ia panggil, ”Sayang.”

Ternyata, begitu pula aku. Aku menukar hidupku, sebagian hidupku, juga masa kecil anak2ku, dengan karir, dengan uang.

Hari ini,  setelah seharian di kantor demi karir,  siang ini aku pulang, hanya sekadar untuk sholat, mandi dan berangkat lagi. Kerja. Kerja. Kerja hingga malam nanti.

Padahal aku tahu gadis keduaku, Lintang, yang cemberut menyambutku di ruang tamu itu, mengerutkan kening  semata karena kangen pada Bapaknya.

”Kenapa pergi lagi Pak?”

”Bapak harus kerja.”

”Kenapa Pak?”

”Supaya dapat rejeki. Jadi kita bisa beli lauk.”

Benarkah demikian? Mungkin tidak. Mungkin sebenarnya aku bisa saja tetap di rumah, bermain dan membelikan putriku donat seperti yang ia minta. Dan kami toh tetap bisa makan. Mungkin tidak berlebihan. Mungkin tak harus mewah. Tapi toh tak akan kekurangan. Takkan kelaparan.

Tapi aku tetap saja berangkat ke klinik. Kerja. Sekadar untuk mendapatkan uang tambahan, atau merasakan kenyamanan finansial.

Atau  untuk mencicipi rasa aman? Entahlah.

Catatan Januari 2003 : Nurcinta Zahida

anakku,

aku tahu, bahwa segala sesuatu itu milik Allah semata.

dan segalanya juga akan kembali.

tapi sungguh, bapak dan ibumu memang masih terus melakukan kesalahan manusiawi ini.

kami mencintaimu nak.

dan kami ingin kau sehat selalu.

jangan sakit. jangan susah. jangan sedih.

padahal sehat, kemudahan dan kebahagiaan, bukankah itu cuma mainan kanak belaka?

dan lagi : bukan kita yang punya.

tapi memang sulit untuk mendapatkan pencerahan sejati.

dan terus, kami terus mencintaimu.

padahal seperti juga nyawa di wadag  ini,  kau pun juga semu.

dan bukankah kekayaan sejati cuma satu : Allah semata?

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain main-main dan omong kosong belaka. Sungguh akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidaklah kamu memahaminya?” (al An’aam 32)

pasti cah ayu. pasti kau memahaminya. bukankah itu sebabnya kunamai kau Zahida ?

Flu Babi Di Tengah Arus Mudik (Jawa Pos, 27/9/09)

Artikel Flu Babi

TENGAH malam, seorang lelaki muda tergolek di tempat tidur IRD RSUD dr Soetomo. “Mas barusan dari luar negeri?” Dia menggeleng. “Pernah bertemu penderita flu babi?” Dia menggeleng lagi.

Kening saya mengerut, tercenung membaca surat rujukan dari sebuah RS di pesisir utara Jawa Timur. Suspect H1N1. Terapi: Oseltamivir 2 x 1 tablet. “Saya cuma karyawan di toko komputer,” gumam lelaki itu di balik masker penutup mulut.

Kerutan saya ternyata tak beralasan. Sebab, kecurigaan dokter spesialis paru yang mengirim pasien tersebut cukup akurat. Selang tiga hari kemudian, hasil hapusan tenggorok juga positif.

Begitu luaskah penyebaran virus flu babi di masyarakat? Tanpa perlu riwayat kontak dengan penderita flu babi atau bepergian jauh pun, tiba-tiba virus H1N1 bisa hinggap?

“Ya!” jawab ahli paru RSUD dr Soetomo Surabaya dr J.F. Palilingan SpP(K). Menurut dia, virus H1N1 sudah menyebar luas di muka bumi dan beranak pinak di masyarakat.

Itulah esensi sebuah kondisi pandemi. Secara ekstrem, jika hari ini seorang manusia menderita gejala flu, tak ada yang bisa menjamin dia bebas dari H1N1. Kecuali, sudah dibuktikan dengan pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) hapusan tenggorok.

Kalau begitu, bagaimana dengan jutaan manusia yang bergerak saat arus mudik? Tidakkah itu berarti mempercepat penyebaran virus H1N1 ke daerah yang semula dianggap “bersih” dari virus tersebut? Atau, haruskah kegiatan mudik ditiadakan.

“Tentu tidak,” kata dr Laksmi Wulandari SpP(K), ahli paru lain dari RSUD dr Soetomo, sembari tersenyum. Jawaban tersebut tentu melegakan para perantau yang rindu rumah, termasuk saya.

Sebab, meski virus itu mudah tersebar, angka kematian karena virus tersebut sangat rendah. Berkisar 0,4 persen. Itu sangat jauh bila dibandingkan dengan angka kematian karena flu burung yang mencapai 60-80 persen.

Sebuah artikel di New England Journal of Med edisi Juli 2009 menulis kalimat pendek yang bernas tentang kondisi pandemi influenza hari ini, “Sesungguhnya, dalam 91 tahun sejak 1918, kita selalu hidup di era pandemi.”

Dasar pernyataan itu, virus flu babi yang kini menyebar adalah keturunan virus flu yang merenggut nyawa 20 juta penduduk dunia pada 91 tahun lalu. Selama masa tidurnya, ia tak pernah sungguh-sungguh hilang. Syukurlah, meski penyebarannya makin mudah sekarang, ia makin jinak kepada induk semangnya. Tidak seperti kakek buyutnya dulu.

RSUD dr Soetomo Surabaya, sebagai RS rujukan, hingga saat ini mencatat 123 pasien yang pernah dirawat karena kecurigaan flu babi. Delapan puluh lima di antaranya positif dan emapt pasien meninggal. Secara nasional, pasien yang positif terjangkit H1N1 sebanyak 1.097 orang dengan sepuluh kasus kematian. Itu masih lebih sedikit daripada Thailand yang mencatat 14.976 kasus dengan 119 kematian atau Australia dengan 35.095 kasus dan 155 kematian.

Kondisi pandemik yang mau tak mau harus diterima itu menuntut perubahan paradigma terhadap penanganan H1N1. Terutama, bagi pakar kesehatan, pemegang kebijakan, dan klinisi. Apalagi, bagi negara dengan sumber daya terbatas seperti Indonesia.

Sebab, penyebaran H1N1 sudah begitu luas. Dengan begitu, manfaat yang didapat dari perawatan di rumah sakit dan konfirmasi positif tidaknya seseorang menderita flu babi menjadi kurang bermanfaat. Apalagi, sebagian besar kasus berhenti pada kondisi sakit ringan yang tak memerlukan perawatan di RS. Penting diketahui, biaya pemeriksaan PCR untuk memastikan diagnosis H1N1 hampir Rp 1 juta tiap kali pemeriksaan.

Karena itu, sesuai dengan pedoman dari WHO dan Departemen Kesehatan, institusi kesehatan kini dianjurkan untuk memperkuat triase atau pemilahan kasus. Mereka yang mengalami gejala ringan dapat beristirahat, lalu diisolasi di rumah. Pasien dengan gejala sedang hingga berat dirawat di rumah sakit sembari dibuktikan ada tidaknya infeksi H1N1.

Pertanyaan yang sering timbul, apa yang harus dilakukan masyarakat? Menurut Depkes RI, cara efektif untuk mencegah tertular H1N1 adalah menjaga kondisi tubuh tetap sehat dan bugar. Yakni, makan dengan gizi seimbang, beraktivitas fisik/berolahraga, istirahat cukup, dan sering mencuci tangan dengan sabun.

Bagaimana jika kita terserang gejala flu seperti batuk, pilek, nyeri tenggorok, dan demam ringan? Haruskah kita minta obat antivirus H1N1 kepada dokter? Tidak. Anjuran terbaik adalah istirahat dan mengisolasi diri di rumah, minum obat flu, serta melakukan etika batuk dan bersin yang baik agar tak menulari orang lain. Tutuplah mulut dan hidung saat batuk dan bersin. Pakailah masker penutup mulut. Sering-seringlah mencuci tangan dengan sabun. Mereka yang mengalami gejala seperti itu termasuk kategori kasus ringan yang tidak memerlukan perawatan. Juga, tidak memerlukan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan ada tidaknya infeksi H1N1.

Lain halnya jika gejala memburuk. Pemburukan itu sering disebabkan adanya koinfeksi dengan bakteri lain yang menyerang saat daya tahan tubuh terganggu. Yang rentan adalah bayi, usia tua, wanita hamil, penderita kencing manis, gangguan jantung, kelainan ginjal, kegemukan, dan penderita asma.

Gejala pemburukan yang paling sering terjadi adalah sesak napas dan demam tinggi tak kunjung turun. Beberapa pasien mengalami batuk darah, batuk dengan riak kental kekuningan, bahkan penurunan kesadaran mendadak, dan shock. Jika gejala itu muncul, segera ke fasilitas medis terdekat.

Flu babi mencatat angka kematian tinggi di Meksiko karena keterlambatan mencari pertolongan medis. Itu tidak boleh terjadi di Indonesia.

Selagi semangat Ramadan belum hilang, mari kita berdoa dan berpikir positif agar virus itu terus bermutasi menjadi virus yang lebih jinak. Bukankah Allah SWT berfirman, “Aku menurut sangkaan hamba-Ku kepada-Ku.”

Perahu Kertas

Perahu Kertas

Perahu Kertas. Bagiku, buku ini mengingatkanku pada impian-impian masa kecil. Sesuatu yang seringkali kita lupakan. Padahal, seperti kata Keenan, “ Jalan kita mungkin berputar, tapi satu saat, entah kapan, kita pasti punya kesempatan untuk jadi diri kita sendiri.”

Kalimat itu menusukku dalam. Melihat diriku sendiri, terasa ada hal-hal yang hari ini harus aku kompromikan demi kelangsungan hidup. Demi situasi yang disebut : realita. Namun, selalu ada yang tak boleh dilupakan. Bagi Keenan itu adalah impian menjadi pelukis, bagi Kugy itu adalah cita-cita menjadi penulis dongeng. Bagiku, itu adalah cita-cita untuk menolong, memberi inspirasi, membuka  jalan, membagi semangat dan keberanian bermimpi, pada lebih banyak orang.

Perahu Kertas memang tak se‘berat’ novel Dee yang dulu. Ia lebih ‘muda’. Tapi dengan liku-likunya kita diajak berkaca pada labirin cinta yang berkabut. Pusaran energi antara Keenan, Kugy, Remi dan Luhde.

Lantas pada akhirnya, kejujuran hatilah yang menang. Mungkin menyakitkan, namun pada akhirnya lebih menentramkan. Setidaknya, agar kita tak hidup dalam kepalsuan.

Kepalsuan sebuah hubungan. Kepalsuan sebuah karir. Kepalsuan rasa bahagia. Kepalsuan hidup. Bukankah sebagian kita tenggelam di dalamnya?

Here the synopsis..

Pulang.

Masjid Agung Kendal

Pulang. Bagiku, pulang adalah langkah untuk memetakan dan memahami apa yang kulakukan hari-hari ini.

Termasuk sore kemarin, sehari sebelum Lebaran, saat aku shalat Magrib di Masjid Kendal setelah nyekar almarhum Eyang di makam Kuncen, Kalibuntu Wetan.

Sudah lebih 20 tahun berlalu. Saat-saat aku bersekolah di SMP 1 Kendal. Hari-hari ketika aku mulai belajar tentang tasawuf, dan tiap kali istirahat  siang, kubawa sarung untuk menyambanginya. Duduk dan merasakan dingin lantainya.

Ajaran Imam Ghazali begitu merasukiku. Terutama tentang seluk beluk zuhud. Aku ingat, aku pernah menulisnya di cermin. Zuhud, yang terdiri dari 3 perkara. 1. Tidak senang saat mendapat dunia. 2. Tidak sedih saat ditinggalkan dunia. 3. Tidak sibuk dengan dunia hingga lupa kepada Allah.

Kini aku telah begitu jauh. Selain nama anakku yang pertama, Zahida(perempuan yang zuhud), lelaku zuhud tak lagi berbekas dalam diriku. Dunia telah sungguh menelanku dalam-dalam.Terlalu dalam hingga kini harus berpikir dan bertanya.

Apa yang telah kulakukan selama 20 tahun ini? Benarkah telah sungguh bermakna? Bagaimana jika tidak? Akankah aku akan mendapat 20 tahun berikut?

Pulang. Sungguh aku ingin pulang…

Kunci Sukses dan Bahagia Tidak Terletak Pada Kerja Keras Semata…

Barusan membaca lagi buku Ernie J Zelinski. Ada cerita bagus yang hari2 ini terlupa, padahal kurasa itu kunci sukses sekaligus bahagia. :)

A wealthy entrepreneur from New York went on a two-week seaside holiday on the coast of Costa Rica. On his first day there, he was impressed with the quality and taste of the exotic fish he bought from a local fisherman. The next day, the American encountered the native Costa Rican at the dock, but he had already sold his catch. The American discovered that the fisherman had a secret fishing spot where the fish were plenty and the quality superb. However, he only caught five or six fish a day.

The New Yorker asked the local fisherman why he didn’t stay out longer at sea and catch more fish.

“But Senor,” the fisherman replied, “I sleep in late until nine or ten every morning; I play with my children; I go fishing for an hour or two; in the afternoon I take a one- or two-hour siesta; in the early evening I have a relaxing meal with my family; and later in the evening, I go to the village and drink wine, play guitar, and sing with my amigos. As you can see, I have a full, relaxed, satisfying, and happy life.”

The American replied, “You should catch a lot more fish. That way you can prepare for a prosperous future. Look, I am a businessman from New York and I can help you become a lot more successful in life. I received an MBA from Harvard and I know a lot about business and marketing.”

The American continued, “The way to prepare for the future is to get up early in the morning and spend the whole day fishing, even going back for more in the evening. In no time, with the extra money you could buy a bigger boat. Two years from now, you can have five or six boats that you can rent to other fishermen. In another five years, with all the fish you will control, you can build a fish plant and even have your own brand of fish products.”

“Then, in another six or seven years,” the American continued while the Costa Rican looked more and more bewildered, “you can leave here and move to New York or San Francisco, and have someone else run your factory while you market your products. If you work hard for fifteen or twenty years, you can become a multi-millionaire. Then you won’t have to work another day for the rest of your life.”

“What would I do then, Senor?” responded the fisherman.


Without any hesitation, the wealthy American businessman enthusiastically replied, “Then you will be able to move to a little village in some laid-back country like Mexico where you can sleep in late every day, play with the village children, take a long siesta every afternoon, eat meals while relaxing in the evening, and play guitar, sing, and drink wine with your amigos every night.”

So, kunci sukses dan bahagia tidak terletak pada kerja keras semata.  Tetapkan tujuan hidup, lantas cari jalan paling efisien tanpa harus mengorbankan hal2 penting lain dalam hidup. Seperti waktu bercanda dengan keluarga, jemputan pertama  saat si kecil pulang sekolah, kesehatan, juga hobi jalan2 bersama istri tercinta.

Lantas maksimalkan waktu yang kita gunakan dengan melakukan apa yang sungguh2 kita kuasai dan  sukai, bukan untuk hal-hal yang tidak dikuasai dan tidak disukai.

Good luck!

Lazy Persons Guide

Ramadan yang Menyembuhkan (Jawa Pos, 23/8/09)

Ramadan

Hidup seorang muslim bergerak dari Ramadan ke Ramadan. Laiknya seorang pengembara, Ramadan adalah mata air, oasis berpohon rindang. Penuh khusyuk, seorang muslim berharap kesembuhan dari penyakit hati. Termasuk gejala mental disorder yang diam-diam terpelihara. Tumpukan stres, depresi, cemas, iri, prasangka, permusuhan, kemarahan, juga degradasi kecerdasan emosional dan spiritual saat menjalani hidup di luar bulan suci.

Namun, meski bertemu mata air Ramadan, menjadi “lebih baik” bukan berarti akan mudah. Sebuah penelitian pada 2000 yang dimuat majalah Psychosomatic Medicine menemukan, pada bulan Ramadan, pria muslim Maroko yang berpuasa lebih mudah tersinggung. Tingkat kecemasan juga meningkat. Tingkat iritabilitas (irritability) dan kecemasan tertinggi terjadi pada mereka yang memiliki kebiasaan tak sehat: merokok.

Mengapa? Secara medis, peningkatan rasa tak nyaman itu diduga disebabkan oleh perubahan pola tidur dan makan yang terjadi secara mendadak. Apalagi bagi perokok. Timbullah gejala withdrawal yang mengejutkan, membuat perjuangan untuk berhenti menjadi lebih berat.

Dari tataran ilmu hati, peningkatan kecemasan dan irritability pada penelitian tersebut mungkin terjadi karena sebagian besar di antara kita meletakkan diri pada kenyamanan syariat. Puasa hanya berhenti pada pantang makan, minum, dan seks. Puasa dibingkai pada pemindahan waktu.

Ah, betapa sengsaranya tubuh yang biasanya dimanja berbagai nikmat dunia. Padahal, jika kita berusaha menembus lebih jauh dengan mata hati, sebenarnya ada cahaya yang ditawarkan Ramadan.

Cahaya itulah yang kebanyakan terlewat. Tak kurang-kurang penduduk muslim di negeri ini berpuasa. Tak pernah susut minat manusia untuk bertarawih. Tak kurang gencar suara azan, pengajian, dan kuliah subuh dari pengeras suara masjid. Bertubi-tubi pula ceramah agama di televisi.

Namun, tiap hari, sepanjang tahun, ada saja berita tentang anggota dewan (sebagian dari parpol bernapas Islam) dan pejabat yang diperkarakan karena korupsi. Selalu ada juga kabar tentang kemiskinan, ketidakadilan, dan kesewenang-wenangan.

Padahal, Rasulullah adalah manusia paling welas asih yang kita kenal. Lantas, ke mana semua berkas cahaya Ramadan bertahun-tahun itu berlalu? Mungkinkah kita termasuk dalam orang yang disebut Rasulullah Banyak orang yang berpuasa, hasilnya hanya lapar dan dahaga?

Tawaran berkas cahaya Ramadan yang kita lewatkan tak hanya berhenti pada jiwa seorang muslim. Sebenarnya, Ramadan juga menawarkan perbaikan pada keselarasan tubuh manusia. Sebuah penelitian di Turki menemukan terjadinya penurunan angka serangan jantung di bulan Ramadan. Salah satu hipotesisnya adalah puasa seharusnya memberikan efek penenang jiwa. Bukan efek cemas seperti penelitian sebelumnya.

Suatu kali pada Ramadan, Rasulullah menegur seorang perempuan yang tengah memaki hamba sahayanya. “Makanlah roti ini,” ujar Nabi ramah sembari menyodorkan sepotong roti. “Mana mungkin aku memakannya ya Rasul, padahal aku sedang berpuasa?” ucap perempuan itu. Dengan bijak Rasul berkata, “Mana mungkin engkau berpuasa, padahal kau mencaci maki hamba sahayamu?”

Jiwa seorang muslim yang berpuasa akan menjauhi amarah dan permusuhan. Ketenangan batiniah itu akan memengaruhi tubuh, meningkatkan kinerja saraf parasimpatik, dan mengurangi pelepasan kortisol atau zat stres dalam tubuh. Ujungnya adalah penurunan denyut nadi, tekanan darah, dan beban jantung. Titik akhirnya adalah penurunan risiko serangan jantung.

Risiko serangan jantung dan stroke, penyebab kematian terbanyak di negeri ini, juga bisa dikurangi dengan iktikaf di bulan Ramadan, satu metode meditasi spiritual yang ditawarkan Islam. Iktikaf, menurut Gus Mus, adalah cara yang diwariskan Nabi dan para mukmin untuk bertafakur, bersendiri dengan Allah.

Dalam lingkup kesehatan mental, meditasi spiritual terbukti lebih superior daripada meditasi sekuler dan teknik relaksasi yang tak menghubungkan manusia dengan Tuhan. Meditasi jenis ini akan mengurangi tingkat kecemasan, stres, dan depresi.

Penelitian pada manusia dan hewan menunjukkan, faktor psikologis berperan penting dalam peningkatan risiko dan perburukan penyakit jantung. Itu terlihat dari analisis atas 23 penelitian pada 1996. Pasien penyakit jantung yang mendapatkan terapi psikologis mengalami 41 persen penurunan risiko kematian jika dibandingkan dengan mereka yang tidak.

Meski iktikaf tidak termasuk terapi psikologis yang diteliti, metode kontemplasi itu tak kalah manjur. Terutama jika kita tak lupa mengedepankan rasa syukur kepada Allah. Satu metode yang akan membuat hati tenteram dan berefek menenangkan.

Almarhum Nurcholis Majid dalam buku lama Pintu-Pintu Menuju Tuhan menyebut puasa sebagai satu-satunya ibadah yang bersifat rahasia dan karena itu menjadi “milik Tuhan” semata. Seorang muslim yang tengah berpuasa, meski tidak sedang beriktikaf di masjid, sebenarnya tengah menyadari sepenuhnya kehadiran Allah dalam hidupnya, di mana saja dan kapan saja.

Ingatan itu akan melahirkan kejujuran dalam berpuasa. Kejujuran dan dialog dengan Allah yang berlangsung sejak fajar hingga senja itu, jika diolah dengan baik, seharusnya bisa menciptakan rasa berserah diri, surrender, kepada Tuhan. Keyakinan penuh bahwa Allah Mahatahu yang terbaik untuk kita. Ibn Atha’illah dalam Al Hikam berkata, “Tiada suatu napas berembus darimu, kecuali di situ takdir Tuhan berlaku padamu.”

Itulah cahaya Ramadan yang harus kita raih. Yakni, tingkat “sadar” yang sepenuhnya terhadap kehadiran Allah dalam hidup, juga penyerahan diri dan keikhlasan kepada segala takdir-Nya. Cahaya itu akan selalu membuat kita tersenyum, memandang sisi positif hidup, dan akhirnya Ramadan benar-benar menyembuhkan jiwa dan tubuh kita. Insya Allah.

Bahagia Itu Pilihan

ada hal2 yang harus kita ingat.
ada hal2 yang harus kita lupakan.
untuk itu, cara termudah untuk hidup adalah menikmati hidup itu sendiri.
saat ini.
karena dengan fokus pada detik ini, tak ada hal2 yang mesti kita ingat. dan tak ada hal2 yang mesti kita lupakan.
lantas, ketika kekinianmu telah membuncah, mulailah bergerak, senatural mungkin, untuk membuat impian2mu jadi nyata. tak harus selalu lompatan besar, karena lompatan besar selalu dimulai dari langkah kecil.
lantas, selesaikanlah apa yang telah kau mulai.
itu saja.
oya, selama menyelesaikan apa yang kau mulai itu, tetaplah merasa berbahagia.
karena bahagia itu pilihan.
bukan sesuatu yang tergantung dari ada tidaknya seseorang, ada tidaknya sesuatu, atau terjadi atau tidaknya satu peristiwa.
bahagia itu pilihan.
dan kita semua berhak untuk itu.

Tak Ada yang Abadi

Sejak pulang dari Bontang, lagu Peter Pan, Tak Ada yang Abadi menghantui hidup.  Tapi memang tak ada yang berakhir selamanya…

Jadi akhirnya tiap kali bangun tidur, kuputuskan untuk sungguh-sungguh menikmati hari ini,  lantas menciptakan hari terindah. Hari terbaik untuk dikenang.

Siapa tahu besok hilang ke alam keabadian…

Menciptakan hari terindah

Pernahkah Kau Jatuh Cinta Lagi?

Aku pernah. Ia seseorang yang cantik, bahkan dalam beberapa waktu, terutama saat aku bertengkar dengan istriku, tampil sangat cantik. Mempesona malah.
Setiap kali bersamanya aku tak ingin pergi kemana-mana. Apalagi jaga di rumah sakit. Berat sekali buatku untuk berpisah.

Hal ini sungguh terasa saat aku harus berangkat ke Bontang bulan Juni kemarin. Di sana, setiap kali aku sedih aku mengingatnya. Memandangnya wajahnya dalam foto membuatku sedikit lupa pada duka dunia.

Kau ingin tahu nama perempuan itu? Nama perempuan itu Langit.

L A N G I T.

Untuknya, aku berterima kasih pada Gusti Allah,  karena telah menurunkan keindahanNya ke bumi.

Langit di Pantai

Everything is wonderful

fearless

Habis nonton film lama di jaringan tv kabel Max. Judulnya Fearless, yang main Jeff Bridges. Film yang bagus. Ini sinopsisnya dari Wikipedia.

Max Klein is a survivor of a plane crash. Many die, including his business partner. The trauma transforms his entire life. He enters an altered state of consciousness; soon after the crash he even thinks he is dead, and begins rethinking life, death, God, and the afterlife. Existential questions start to preoccupy his life. He moves away from his wife, son, and friends but, encouraged by an aircraft company psychiatrist, he tries to break the depression and apathy of another survivor, Carla Rodrigo, who lost her baby son during the flight. Eventually Max’s increasingly dramatic attempts at pushing the boundaries between life and death succeed in jolting Carla from her uncertain state. However, after parting company with Carla, Max remains preoccupied, which endangers his relationship with his wife and son. Max has another, more serious near-death experience after eating strawberries, to which he has a severe allergic reaction. He survives and (it is implied) he recovers his emotional connection to his family and the world.

Tapi yang terbaik adalah kata-kata Max Klein(Jeff Bridges) pada seorang anak saat pesawat yang mereka tumpangi hendak mendarat darurat dan kemudian ternyata pecah berkeping-keping.

“Everything is wonderful”

Berkaca pada hidupku, ternyata aku belum sampai ke sana.  Ke titik ’surrender’ sepenuhnya.

But, I’ll be there soon….

Memaafkan. Berpasrah diri. Menerima takdir.

Wall paperku hari ini. Amin.

menerima takdir

Prita, Cermin Komunikasi yang Minim (Jawa Pos 9/6/2009)

Prita di Jawa Pos

Kasus Prita melawan dokter dan Rumah Sakit (RS) Omni Internasional memancing reaksi banyak orang. Sambil menunggu proses sidang selanjutnya, apa yang bisa dipelajari dari kasus Prita? Apa yang bisa dilakukan agar hal-hal tak mengenakkan yang terjadi pada Prita selama di RS Omni tak terulang? Runtut jawaban itu penting. Sebab, sungguh tak nyaman menjadi pasien yang merasa dirugikan. Sudah sakit fisik, masih ditambah perasaan terabaikan, tereksploitasi, terkorbankan. Tumpukan kegelisahan melahirkan kalimat dalam e-mail Prita yang mencubit dan menusuk.

Bila Anda berobat, berhati-hatilah dengan kemewahan RS dan titel internasional, karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan (suarapembaca.detik.com). Benarkah demikian?

***

Jawabannya bisa dirunut dari perkembangan kedokteran modern yang kemajuannya begitu menakjubkan. Pasien penyumbatan arteri koroner yang dua dasawarsa lalu harus berakhir di meja operasi kini bisa bernapas lega. Sebagian besar kelainan bisa diatasi dengan tindakan invasif minimal, yang bahkan bisa dilakukan sembari rawat jalan.

Namun, keajaiban itu tidaklah gratis. Metode pemeriksaan dan obat terbaru selalu lebih mahal karena biaya riset yang harus dibayar konsumen. Juga bahan dan teknologi terkini yang akhirnya dibebankan pada pengguna. Ini menimbulkan prasangka baru, seakan dunia medis saat ini lebih materialistis dan tak berpihak pada rakyat kecil.

Derasnya arus perubahan itu juga berpengaruh pada hubungan antara dokter dan pasien. Teknologi mempersingkat waktu interaksi antara dokter dan pasien karena terbantu oleh pemeriksaan penunjang yang memanjakan. Akhirnya, lebih banyak pasien yang bisa ditangani oleh seorang dokter, dengan risiko makin sedikit pula waktu yang bisa diberikan. Apalagi, penghargaan yang kadang tak sesuai dari rumah sakit sebagai industri membuat dokter terpaksa “berkelana” dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain.

Semua itu berpengaruh pada jalinan komunikasi antara dokter dan pasien. Apalagi, dunia tengah berubah. Hubungan dokter dan pasien, pada kondisi bukan darurat, tak lagi bisa berjalan dengan model paternalistik. Model lama di mana dokter dipercaya sepenuhnya dan segala keputusan diserahkan kepadanya layaknya orang tua.

Sebuah studi pada dua ribu pasien menunjukkan bahwa 78 persen pasien mengeluhkan tiga hal pokok. Yakni, tidak diberi waktu untuk mengungkap tuntas keluhan, tidak mendapat penjelasan yang mudah dimengerti, dan tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan (J. Gen Intern Med: 2002).

Ketidakpuasan pada model paternalistik memunculkan model informatif. Pada kutub ini, tugas dokter adalah memberikan informasi secara akurat kepada pasien dan membiarkannya memilih. Aman memang, namun lebih kering, impersonal, dan tanpa keterlibatan emosi. Seorang dokter bekerja mirip seorang arsitek, di mana segala keputusan berada di tangan pemilik rumah.

Model terbaik di antara dua kutub ekstrem model paternalistik dan informatif adalah model deliberative. Dokter memberikan informasi seluasnya, namun tetap bersikap layaknya sahabat sang pemilik rumah, di mana dia berusaha berempati dan memberikan saran terbaik sesuai dengan kondisi pasien.

Sayang, model hubungan dokter pasien yang ideal itu tidak akan terjadi tanpa komunikasi yang baik. Pertanyaannya, sudahkah fakultas kedokteran di Indonesia menekankan pentingnya komunikasi pada para calon dokter? Sudahkah para calon dokter diberikan bekal yang cukup tentang teknik komunikasi yang baik dengan pasien?

Kenyataannya, mata kuliah tersebut lebih sering terabaikan -kalau toh ada, penyampaiannya tidak menarik. Sebuah studi menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa kedokteran memasuki kampus dengan idealisme tinggi, namun dalam dua tahun mulai tergerus. Pada tahun-tahun akhir, sikap paternalistik mulai terbangun, kemudian mereka lulus dengan pandangan lebih berorientasi pada penyakit daripada pasien (Med Educ: 2002).

***

Ada tiga fungsi utama dari komunikasi antara dokter dan pasien yang perlu diketahui. Yakni, menggali informasi, membangun dan menjaga hubungan kepercayaan, serta merencanakan langkah-langkah selanjutnya, termasuk edukasi. Pada kasus Prita, ada kegagalan fungsi kedua dan ketiga yang akhirnya menimbulkan kekecewaan. Melahirkan e-mail yang mencubit dan menusuk tersebut.

Kasus Prita juga mengandung pelajaran penting bagi para pasien di tanah air. Pertama, usahakan kita memiliki dokter keluarga yang mengenal dan mencatat dengan baik riwayat kesehatan kita. Langsung menuju rumah sakit untuk kasus bukan gawat darurat kurang bijak. Dokter UGD dan dokter spesialis rujukan tidak mengenal tubuh kita seperti dokter keluarga. Waktu mereka pun tak sebanyak dokter keluarga. Akibatnya, segala efek samping obat bisa saja datang tak terduga.

Kedua, usahakan mendapat informasi secara lengkap dari dokter yang merawat. Jika perlu, carilah second opinion. Ketiga, jangan membiarkan kita dirawat oleh dokter yang tidak kita percayai sejak awal. Sebab, hasilnya hanya akan merugikan dan melukai kedua belah pihak.

Bagaimana dengan para dokter? Kalimat Prita di awal tulisan seharusnya menjadi cermin yang mengetuk hati dan menggerakkan semangat perubahan. Namun, sampai saat ini saya tidak sependapat dengan kalimat, semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan. Sebab, semakin pintar dokter, seharusnya dia menjadi rendah hati, makin berempati kepada pasien-pasiennya, serta makin kaya dalam kemampuan berkomunikasi. Yakni, kekayaan yang akan menentramkan hati dokter dan pasiennya. (*)

dr M. Yusuf Suseno, tengah bertugas di RSUD Taman Husada Bontang, Kaltim

Susu Sapi dan Hari Bakti Dokter (Jawa Pos 24 Mei 09)

Susu Sapi di Jawa Pos

Sungguh menarik tulisan Pak Dahlan Iskan berjudul Susu Sapi Bukan untuk Manusia (JP, 15/5/09). Menggelitik dan mengundang kontroversi. Yang pasti, tulisan itu membuat sebagian pembaca membeli buku Prof Hiromi Shinya, The Miracle of Enzyme. Termasuk saya.

Pubmed, mesin pencari artikel ilmiah dari perpustakaan nasional Amerika, menghasilkan 40-an artikel ilmiah tulisan Prof Hiromi. Sebagian besar tulisan itu mengulas kolonoskopi, penyakit usus besar, dan masalah medis pencernaan lain.

Namun, tak satu pun artikel ilmiah beliau di Pubmed yang terkait susu dan daging sapi. Tak ada juga topik gizi lain. Artikel ilmiah yang menghubungkan jenis makanan dan kondisi pencernaan pasien pun tak ada.

Timbul pertanyaan, apakah pernyataan beliau tentang susu sapi itu betul-betul didasari data ilmiah yang telah teruji secara statistik? Atau itu semua berdasar pengalaman klinis dan asumsi semata?

Seorang petugas KPK dan koruptor bisa saja ditemukan sama-sama berada di padang golf. Tapi, apakah keberadaan petugas itu karena diundang koruptor, mengawasi koruptor, atau sekadar kebetulan berada di tempat yang sama? Atau, ada faktor lain? Bertemu caddy yang sama, misalnya.

Begitu pula halnya dengan susu. Hingga saat ini belum ada kata sepakat tentang manfaat dan bahaya susu sapi bagi manusia. Pihak yang pro, termasuk sebagian besar ahli gizi, menyebut berbagai penelitian yang positif. Subjek yang minum susu berisiko stroke dan serangan jantung lebih rendah, lebih jarang mengalami hipertensi, dan lebih terlindungi dari patah tulang pada usia tua.

Sebaliknya, pihak yang kontra menyebutkan hasil penelitian yang negatif. Antara lain, susu sapi dicurigai sebagai pencetus diabetes pada anak dan dewasa, sering terjadi reaksi intoleransi dan alergi, serta ada peningkatan risiko kanker prostat pada subjek yang banyak minum susu.

Namun, belum ada publikasi ilmiah yang menyatakan susu menyebabkan usus menjadi “jelek”. Buku Prof Hiromi, yang tidak bisa dikatakan artikel ilmiah murni karena banyak asumsi di dalamnya, adalah satu-satunya sumber pernyataan tersebut. Bisa saja itu benar, ada sebab akibat antara susu dan kondisi pencernaan manusia yang “jelek”. Tetapi, bisa saja kesimpulan tersebut berlebihan. Susu mungkin bermanfaat pada kondisi tertentu, mungkin juga tidak.

Jadi, berikan ASI kepada bayi Anda. Jangan paksa anak minum susu sapi jika dia tak suka. Gantilah sumber kalsium dari buah dan sayur. Namun, jika suka dan tak ada efek samping, biarkan dia minum susu sapi. Menurut saya, hukum susu sapi dari sudut pandang medis adalah boleh alias mubah.

Orang besar memang selalu punya ide dan pandangan berbeda. Tugas mereka menginspirasi dan membuat orang berpikir. Prof Hiromi dan Pak Dahlan melakukannya dengan baik. Salah satunya adalah kalimat Pak Dahlan tentang pandangan Prof Hiromi terhadap dunia kedokteran.

“Dokter melihat pasien hanya dari satu sisi di bidang sakitnya itu. Jarang dokter yang mau melihatnya melalui sistem tubuh secara keseluruhan. Dokter jantung hanya fokus ke jantung. Padahal, penyebab pokoknya bisa jadi justru di usus. Demikian juga dokter-dokter spesialis lain. Pendidikan dokter spesialislah yang menghancurkan ilmu kedokteran yang sesungguhnya.”

Kalimat terakhir itu sangat mencubit. Cubitan yang makin terasa karena 20 Mei lalu adalah Hari Bakti Dokter Indonesia. Cubitan yang membutuhkan perenungan.

Benarkah pendidikan dokter spesialis menghancurkan ilmu kedokteran? Bukankah sistem pendidikan dokter di Amerika termasuk salah satu yang terbaik di dunia? Kenyataannya, dunia medis Amerika kebanjiran dokter spesialis. Perbandingan dokter umum dan spesialis di Amerika 2 : 1. Itu memicu kritik.

Pendidikan kedokteran di Amerika dianggap kurang berhasil mendorong lulusannya mendalami etika, hambar dalam pemahaman manusiawi pada pasien penyakit terminal, dangkal nuansa spiritual dan agama, serta berlebihan dalam penggunaan teknologi. Padahal, ilmu dan teknologi tanpa jiwa dan empati tidak hanya tak efektif dan mahal, tapi juga berbahaya.

Bagaimana di Indonesia? Dengan perbandingan dokter umum dan spesialis 5 : 2, dunia medis Indonesia masih butuh banyak dokter spesialis. Namun, pendidikan dokter spesialis tidak seharusnya membuat penyelenggara pendidikan kedokteran melupakan esensi penting dokter keluarga. Bagaimanapun, tujuan utama kita adalah menyehatkan masyarakat, bukan sekadar menyembuhkan seseorang dari sakit. Itu hanya bisa dicapai dengan dokter keluarga yang kompeten, percaya diri, bergaji cukup, dan berwawasan luas.

Agar tidak terjebak pada lubang yang sama seperti Amerika, alangkah baiknya jika fakultas kedokteran di Indonesia senantiasa mendorong muridnya untuk mendekati pasien secara holistik. Seperti sepotong kalimat almarhum Prof Boedhi Darmojo, ahli penyakit dalam dan jantung yang bijak, saat memulai kuliah awal tahun. “Nak, medicine is science and art.”

Kemajuan ilmu dan teknologi harus diimbangi maturitas jiwa, soul, seorang dokter. Keputusan medis tidak bisa direduksi semata pada pertimbangan empiris. Seorang dokter seharusnya berusaha mengenal pasiennya sebagai seorang pribadi.

Seorang dokter dari Inggris, S.G. Jeffs, puluhan tahun lalu menulis hal mendasar yang seharusnya tidak dilupakan. ”… You have patients who are human beings with feelings and emotions who often have a greater dignity and self-respect than you possess yourself.” Mungkinkah hal itu terwujud dalam dunia modern yang makin asing dan sibuk? Semoga.

The Funny Thing About Human Beings

* “What is the human being’s funniest characteristics?”

**”Our contradictoriness.
We are in such a hurry to grow up, and then long for our lost childhood.
We make ourselves ill earning money, and then spend all our money on getting well again.
We think so much about the future that we neglect the present, and thus experience neither the present nor the future.
We live as were never going to die, and die as if we had never lived.”

In my cases :
These years. almost everyday  I spend more than 12 hours  away from my girls, and then, when I’m getting older and should stay, may be my girls were at home no more.
No. I will let that happen no more.

(Like The Flowing River, Pulo Coelho)

Maafkan Bapak…

sabar pak..Cinta, maafkan Bapak karena Bapak sering marah padamu.

Maafkan juga bapakmu ini karena kadang Bapak  lupa, bahwa kau telah rela mengikuti perjalanan hingga ke Surabaya, padahal Cinta bisa saja tetap tinggal di kampung halaman.

Maafkan Bapak  karena sering  lupa menepati janji untuk meluangkan lebih banyak waktu denganmu.

Cinta, maafkan Bapak ya Nak, karena Bapak juga sering lupa bilang, bahwa Bapak menyayangimu.

Pak, biarkan aku bermain hingga basah Pak..

Garengpung

aku selalu menyukainya. entah kenapa. mengingatkanku pada suasana desa.dulu di jaman masa kecilku.
kemarin, saat aku pergi ke gonoharjo, kecamatan limbangan, kendal, aku mendengarnya.

kini, hidup di tengah matahari surabaya yang menyengat, aku merasa ada hal2 yang belum tercapai. namun di balik itu semua, sungguh banyak hal yang pernah diberikan oleh hidup padaku.

mulai dari hidup itu sendiri, anakku2, bidadari2 kecilku,  kesempatan untuk sekolah, menolong orang, membuat mereka bahagia.

aku tahu, tak seharusnya aku nggresulo pada apa yang kucapai.
pada apa yang kumiliki.

di tengah suara garengpung, aku kembali  berpikir, setidaknya : beruntunglah aku karena masih bisa mendengarnya.
aku tahu, ada banyak orang yang jauh lebih tak beruntung dibandingkan aku.

di rumah sakit, aku melihatnya setiap hari.
garengpung

Before it’s too late…

Friday comes, you go home, and you pick up the newspapers that you weren’t able to read during the week. You turn on the television with the sound off. You put on a cassette tape. You use the remote control to jump from one channel to the other, as you try to turn the pages of the paper and listen to the music. The papers contain nothing new, the TV programs are repetitious, and you’ve already heard the cassette dozens of times. Your wife is attending to the children, sacrificing her youthful years without really understanding why she is doing so. An excuse occurs to you: “Well, that’s the way life is.” No, that’s not the way life is. Life is enthusiasm. Try to remember where it was that you hid away your enthusiasm. Take your wife and children with you and try to find it again, before it’s too late. Love never kept anyone from following his dream.

From Maktub, by Paulo Coelho

di-pantai-wisid-gresik

Mengambil resiko

Saya percaya pada kalimat ini.

Dengan berjalannya waktu, bukanlah kegagalan yang sungguh-sungguh kita sesali.

Tapi penyesalan itu akan menumpuk pada hal-hal yang malah tak pernah kita lakukan, padahal sesungguhnya kita menginginkannya setengah mati.

Semata karena menyerah pada rasa takut, rasa kuatir meninggalkan zona nyaman, dan tak berani mengambil resiko. Juga sering karena langkah yang hendak diambil tak sesuai dengan keinginan banyak orang di sekitar kita.

Mungkin ada baiknya kita sekali-kali duduk menyendiri dan bertanya, apakah hidup yang sekarang kujalani sudah sesuai dengan apa yang ada dalam benakku bertahun lalu?

Saat kita masih muda, saat kita masih optimis dan berani bermimpi?

Bung Karno tak pernah menyesali cita-citanya untuk menyatukan nasionalis, agama, dan komunis dalam Nasakom. Meskipun toh pada akhirnya ia terbukti gagal. Karena ia tahu, jika ia tak berusaha mewujudkan Nasakom semata karena takut dikritik, ia akan lebih menyesal.

Menyesal karena tak mendengarkan suara hatinya. Impian2nya.

Begitu juga kita.

Menurut saya, mewujudkan mimpi tak harus dimulai dari sebuah perubahan besar dan drastis. Seperti meninggalkan pekerjaan atau rumah. Tapi ia bisa dimulai dari yang kecil.

Pada diri saya, ia dimulai dari perjalanan menuju Gramedia dan membeli buku tentang cara menulis artikel yang baik. Lantas membacanya dalam diam.

Saat inipun saya masih terus berjuang mengalahkan ketakutan2 lain dalam diri saya. Dan sungguh itu tak mudah. Hasilnya sering mengecewakan malah.

Namun, setidaknya saya masih dan akan terus mencoba. Adakah cara lain selain mencoba?

Calon Penghuni Ruang Mulia

Aspirasi tetangga terekam dalam ingatan. Membuat mual. Tak penting mungkin. Tapi ngganjel. Apalagi hari-hari menjelang Pemilu 2009 ini. Ada saja suara tak jelas. Asbun.

“Saya nggak peduli siapa yang menang besok. Mau SBY, mau Mega, mau JK, terserah. Saya sudah capek cari duit. Lagi repot diutangi sama ponakan-ponakan yang mencret. Mana rumah kebanjiran padahal hujan baru sebentar.”

 Salah satu ‘asbun’ lain adalah argumen kuno tentang tahta.

Bukankah selain harta, tahta adalah salah satu sumber kesenangan bagi manusia? Jadi mbok biar saja mereka senang-senang memburu tahta selama hidup di dunia? Masalah nanti setelah ‘jadi’ ditawari korupsi, kolusi, dan nepotisme, itu kan nasib. Kalau kuat iman, alhamdulillah. Kalau nggak? Ah, itu kan belum tentu. Siapa sih yang nggak mau ‘dicoba’ dengan yang enak-enak seperti itu? Siapa tahu kuat :)

Mungkin akibat argumentasi semacam itulah gambar manusia terpampang di jalan-jalan. Mulut gang, atas pohon, depan warung, tepi sungai, atap rumah, kaca angkot. Beberapa terlalu banyak hingga membuat suntuk. Senyum manis. Senyum terpaksa. Waduh2, apa kota ini milik sampeyan-sampeyan saja to Cak?

Padahal kata yang empunya cerita, Narcisus akhirnya mati kehausan. Cinta yang berlebihan pada diri sendiri membunuh. Air berlimpah di telaga tak tersentuh, takut merusak bayangan wajah sendiri. Sigmund Freud, seorang pintar yang tak disukai banyak orang mendaulatnya sebagai penyakit.

Tulisan : Selamat dan Sukses atas Penunjukan Tn A sebagai calon dari partai X, terpampang di spanduk. Siapa sesungguhnya yang memberi selamat? Tidak jelas. Siapa yang mengucap sukses? Tidak jelas. Apa Tn A  tidak kuatir lama-lama terkena gejala Narcissistic Personality Disorder(NPD) alias gangguan kepribadian narsis?

Jelas tidak. Para caleg yang terhormat kan sudah diperiksa lengkap dokter. Sudah diurut bobot, bibit, bebetnya. Sudah di fit dan proper test oleh partainya. Jadi tidak pada tempatnya untuk meragukan. Lha kalau ditanyakan? Silakan saja. Mumpung bertanya belum dilarang.

Namun jika setelah mereka terpilih sebagian dari mereka  melupakan kita, jangan kaget. Baca saja sajak Gus Mus, Di Ruang Mulia.

Di ruang mulia berpendingin itu mereka ternganga-nganga atau mengigau bersama-sama menyebut-nyebut nama kita seolah-olah kita adalah keluarga mereka. Keluarga apa? Atau anak-anak asuh mereka, anak-anak asuh apa? Kitalah mata pencaharian mereka satu-satunya.

Benarkah? Semoga tidak.

Syaukani, Antara Singapura dan Ponari (Kaltim Post 27/2/09)

Mengapa keluarga Pak Syaukani Hasan Rais, mantan bupati Kutai Kartanegara, ingin membawa beliau ke Singapura?(Kaltim Post 25/2/09) Apakah dokter di RS Pusat Pertamina tidak cukup kompeten untuk menangani Pak Syaukani? Apa mereka sudah angkat tangan? Meski kurang nyaman didengar, sangat wajar bila pertanyaan itu muncul. Apalagi karena keluarga merasa kondisi mantan pejabat yang tersandung kasus korupsi tersebut tak kunjung membaik setelah berminggu-minggu perawatan di rumah sakit.

Bagaimana jika kita bawakan air dari dukun cilik Ponari Jombang? Siapa tahu sembuh? Bukankah menurut kabar burung Ponari juga ampuh? Bukankah ia dipercayai beribu manusia?

Meski berbeda tempat, Singapura dan Jombang, keduanya menunjukkan satu sisi yang sama. Penurunan tingkat kepercayaan pada dunia kedokteran di Indonesia. Juga kegagalan Pemerintah, profesi dokter dan industri kesehatan dalam meyakinkan masyarakat tentang mutu dan pemerataan pelayanan kesehatan yang paripurna.

Kita harus akui itu. Bukan buruk muka cermin dibelah. Tapi muka kitalah yang mesti dipoles dan diobati jerawat batunya.

Ada beberapa jerawat yang membuat muka dunia kedokteran dan pelayanan kesehatan di negeri kita kurang nyaman dipandang pasien. Akibatnya mereka pun lari ke Singapura, Penang, atau ke ‘dunia lain’, Jombang.

Masalah pertama dan terbesar adalah komunikasi. Menurut Emanuel, ada beberapa model komunikasi antara pasien dan dokter. Tipe tertua dalam tradisi kedokteran adalah model paternalistik, satu model yang masih banyak dipakai di Indonesia. Pada model itu, interaksi antara dokter dan pasien laksana orang tua dengan anaknya. Dokter memastikan bahwa pasien mendapat terapi terbaik. Tapi, jika terjadi efek samping, hubungan dokter-pasien itu pun bisa memburuk dengan cepat. Tuduhan malpraktek sangat mudah berkembang. Isu yang makin menurunkan tingkat kepercayaan.

Saat ini, sesuai perkembangan globalisasi dan media informasi, hubungan dokter-pasien dituntut untuk berubah. Salah satu model lain yang bisa menjadi pilihan adalah model informatif yang setara. Model informatif tersebut menciptakan transaksi terapetik yang lebih terbuka antara pemberi jasa dan konsumen, meski kadang terasa dingin dan tak melibatkan pribadi.

Risiko model informatif itu adalah waktu konsultasi jadi lebih lama, satu hal yang belum didukung oleh sistem kesehatan di Indonesia. Dokter spesialis di Indonesia harus bekerja di beberapa rumah sakit, praktek dari pagi hingga dini hari agar bisa hidup layak. Keramahan dan pendekatan personal yang diajarkan oleh para guru besar di fakultas kedokteran kadang terlupa.

Begitu pula dengan teman sejawat dokter umum. Siapa yang bisa menjamin para dokter di puskesmas, dengan jumlah pasien puluhan, akan sanggup memberikan informasi lengkap serta memberikan sambutan yang ramah pada pasien-pasiennya?

Hal yang mirip terjadi pula pada profesi paramedis, terutama yang bekerja di rumah sakit milik pemerintah. Menumpuknya pasien, berjubelnya pasien yang tidur di lorong rumah sakit, semua memberi beban kerja yang tinggi. Pendekatan pribadi kadang terlupakan. Rumah sakit pun terasa kering dan tak lagi ramah.

Masalah komunikasi akibat beban kerja tinggi tersebut sangat terkait dengan problem diagnosa dan terapi. Beban tersebut menyebabkan sebagian dokter dan perawat mengalami penurunan kinerja. Diburu-buru waktu. Berpindah dari satu pasien ke pasien lain. Dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain. Akibatnya pun jelas. Beberapa pasien merasa tidak puas, dan lari ke rumah sakit di luar negeri. Atau ke rumah Ponari.

Masalah keterbatasan alat dan teknologi kedokteran juga cukup mengganggu. Kita harus mengakui bahwa peralatan di puskesmas dan rumah sakit daerah belum cukup memadai dalam penanganan beberapa kasus rumit. Sehingga pasien harus dirujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap, dengan dokter yang lebih ahli.

Sayangnya, tidak semua dokter merasa perlu membeberkan fakta tersebut. Sebagian dokter memiliki asumsi bahwa masyarakat Indonesia tidak akan sanggup membiayai pengobatan paripurna tersebut, dan mereka memang benar. Program Jamkesmas dari Pemerintah tidak menanggung biaya untuk transplantasi ginjal maupun transplantasi hati seperti yang dijalani Pak Dahlan Iskan. Namun, mulai kini ada baiknya profesi kedokteran memberikan informasi tentang penanganan maksimal yang bisa ditawarkan oleh dunia kedokteran modern. Informasi ini akan membuat masyarakat sadar bahwa bukan dokter Indonesia yang ‘kuper’, tapi memang ada keterbatasan dalam hal sarana yang terkait dana.

Sungguh, Indonesia tidak kekurangan tenaga ahli. Kualitas fakultas kedokteran kita pun cukup baik. Banyak mahasiswa Malaysia yang belajar kedokteran ke Indonesia. Alat-alat di rumah sakit rujukan pun cukup lengkap. Bahkan Amerika dan Eropa pun mengakui bahwa mereka tidak ahli dalam semua penyakit. Berbagai jenis penyakit infeksi khas dunia ketiga seperti malaria, demam berdarah, dan penyakit jantung rematik berada di luar keahlian mereka. Dalam jurnal-jurnal ilmiah mereka menyatakan hal itu.

Namun kelebihan mereka adalah dalam usaha untuk menyamankan pasien dan keluarganya. Jujur saja kita kalah dalam kesadaran dan kesiapan berbisnis kesehatan dibanding Singapura dan Penang. Begitu pasien datang di bandara mereka sudah siap mengantar. Pelayanan di rumah sakit pun begitu cepat. Mereka sangat sadar bahwa rakyat Indonesia adalah pangsa pasar yang besar, dan layanan kesehatan adalah industri jasa yang menjanjikan. Tanpa orang Indonesia, rumah sakit di Singapura dan Penang akan merugi karena investasi yang tak kembali.

Bagaimana dengan Ponari? Setali tiga uang dengan jalan pikiran keluarga Pak Syaukani, para pasien Ponari pun merasakan ketidakpuasan. Hanya saja mereka tak beruang. Rumah Ponari adalah rumah sakit rujukan mereka, Mount Elizabeth dan Singapore General Hospital mereka.

Sebagian dari mereka sembuh, banyak juga yang tidak. Inilah yang disebut dengan efek placebo. Efek plasebo adalah efek yang terjadi pada terapi tanpa substansi yang sesungguhnya. Pil palsu yang berisi gula dan gandum. Operasi tanpa pisau, bahkan tanpa menyentuh kulit pasien. Seorang ahli jiwa, Shapiro, mendefinisikan plasebo sebagai terapi apapun yang menggunakan efek psikologis dan reaksi fisiologi tubuh. Di sini hubungan antara pikiran dan tubuh diuji, hasil interaksi rumit antara si penyembuh, proses terapi, dan pasien itu sendiri.

Mereka yang berbondong mencari Ponari adalah mereka yang putus asa pada dunia kedokteran modern, lantas berpaling pada ‘dunia lain’. Dan menggunungnya harapan, disertai keyakinan yang tulus membuat mereka peka pada efek plasebo sebuah batu. Sebuah efek yang terbukti pada beberapa kasus bisa menyembuhkan. Akhirnya, praktek Ponari pun memiliki gaung yang melebihi terapi kedokteran konvensional

Akankah Pak Syaukani sembuh setelah sampai di Singapura? Akankah mereka yang berduyun ke Jombang menerima manfaat dari batu Ponari? Wallahu’alam.

Penulis :

dr. M. Yusuf Suseno, tengah bertugas di RSUD Taman Husada Bontang, Kalimantan Timur.

Ke Bontang lagi…

Akhirnya aku ke Bontang lagi. Februari ini saja. Tentang cerita dari sini, tunggu dulu ya…

:)

Selamat Jalan Dokter Pejuang !

lihat, bu, aku tak menangis

sebab aku bisa terbang sendiri dengan sayap ke langit

(Subagio Sastrowardojo)

Senja itu pastilah mendung, basah, dan hitam. Senja ketika dr Wendy, dr Hendy dan dr Boyke berakhir ditelan ombak. Senja saat cita-cita harus selesai. Berhenti diterjang maut. Malam berikutnya, dr Pranawa SpPD, ketua IDI Jatim menelepon saya dan bertanya, apakah kita, dokter dan rakyat Indonesia, sungguh-sungguh kehilangan mereka?

Ketiga dokter pejuang itu memang menjadi korban KM Risma Jaya yang tenggelam di Muara Kali Aswet, Kabupaten Asmat, Papua Barat 13 Januari lalu. Dr Wendyansah Sitompul, PNS lulusan FK UI adalah dokter ahli kandungan satu-satunya di Kabupaten Asmat. Juga dua rekan dokter umum, dr Hendy Prakoso dari FK Unair dan dr Boyke Mowoka dari FK Universitas Sam Ratulangi, yang tengah menjalani masa bakti sebagai dokter pegawai tidak tetap(PTT) di Kabupaten Asmat.

Jelas ada hal-hal yang tak bisa tergantikan. Bahkan dengan penghargaan Ksatria Bakti Husada Arutala dari Menkes dr. Fadillah Supari sekalipun. Rasa kehilangan bukan hanya milik keluarga dan pasien-pasien mereka di Asmat, tapi merambah hingga Jakarta, Surabaya, seluruh Indonesia.

Tentu. Dalam tataran jasad, kita sungguh kehilangan mereka. Namun seperti juga jasad dr Hendy yang sempat ditemukan dan dikubur oleh penduduk sekitar kejadian, kita juga bisa menggali kembali. Menemukan kembali. Mengembalikan pada yang berhak.

Bukan. Bukan sekadar jasad yang akan lapuk ditelan waktu. Tapi menggali semangat. Menemukan kembali jiwa suci pengabdian dan pengorbanan. Lantas mengembalikannya pada yang berhak. Rakyat Indonesia.

Jadi, jawabnya adalah tidak. Kita tak sungguh-sungguh kehilangan mereka. Mereka ada di dalam hati, menyemangati nurani.

Hati siapa, nurani siapa? Siapa pula yang masih memilikinya dan percaya? Benarkah dokter di Indonesia masih memiliki hati dan nurani? Nyatanya pemberitaan tentang kematian mereka di media toh tak sebesar berita tuduhan malpraktek pada dokter, kupas tuntas kasus hukum pada dokter yang melakukan aborsi, maupun kritik pada layanan lamban rumah sakit Pemerintah. Jawa Pos bahkan hanya mencantumkan kalimat Menkes pada kolom kutipan. “Mereka adalah aset bangsa yang sangat luar biasa. Mereka tulus mengabdikan diri pada masyarakat Asmat yang sangat jauh.”(Jawa Pos 19/1/09)

Benar, sangat jauh. Begitu jauh hingga senja luka yang berombak itu menyeret jasad mereka, mengisi paru-paru dengan air, membalikkan masa depan. Mungkin di saat yang sama sebagian besar kita tengah duduk menonton televisi, asyik melihat kontes idola cilik, tersenyum bersama artis sinetron, atau penat dihinggapi berita korupsi.

Doa-doa mereka bertiga tak terdengar oleh kita. Tak terbayang bahkan. Sungguhkah di zaman hedonis seperti ini masih ada dokter yang bertaruh nyawa, untuk masyarakat yang tak mereka kenal sama sekali sebelumnya?

Untunglah mereka ada. Banyak. Ribuan. Hanya saja tak bersuara. Tak pernah masuk dalam berita. Hingga kini, dokter adalah satu-satunya sarjana plus yang siap kirim, siap bekerja ke daerah terpencil Indonesia.

Mereka, para dokter PTT itu bertebaran di daerah terpencil. Meninggalkan sanak keluarga. Bekerja keras menolong sesama yang sakit. Tanpa pamrih. Gaji yang tersendat. Perhatian Pemerintah yang kurang. Tak ada jaminan keselamatan. Tak ada pelampung. Tak ada alat telekomunikasi. Sendiri.

Senja kemarin pastilah mendung, basah dan hitam. Dan di senja itu mereka sungguh sendiri. Berhadap-hadap dengan maut. Namun, mereka tak sungguh-sungguh pergi. Hingga kini mereka masih tetap menebar semangat. Menghidupi nurani. Terbang menembus langit hati.

Selamat jalan Dokter Pejuang!

Revolutionary Road dan Seven Pounds

revolutionary

Liburan 3 hari. Nonton Revolutionary Road dan Seven Pounds. Terasa ada kontinuitas di antara kedua film itu. Ada sesuatu yang ingin disampaikan Allah padaku melalui mereka.

Revolutionary Road (Leonardo Dicaprio dan Kate Winslet) mengisahkan tentang pasangan suami istri yang tengah mempertanyakan kemapanan hidup yang dimiliki, yang berujung pada kehampaan yang mengiris.

Sekali lagi, pertanyaan tentang comfort zone kembali muncul. Sungguhkah hidup yang kini kita jalani sungguh2 sesuatu yang kita inginkan? Tidakkah pilihan hidup yang kita ambil saat ini semata dipengaruhi karena rasa takut?

Frank Wheeler kecil dalam Revolutionary Road berkata, aku takkan menjadi salesman di Knox seperti ayahku. Tapi ternyata akhirnya pekerjaan itulah yang ia jalani. Dan itu pula yang terjadi di dunia nyata. Banyak dari kita menyerah pada keadaan, keterpaksaan, semata karena kita takut. Takut mengambil resiko dalam hidup. Akhirnya kita pun menjalani hari-hari tanpa senyum, sekadar rutinitas. Inikah hidup yang benar2 kuinginkan?

Persoalan yang sama kini tengah membuatku gundah. Aku melihat perjalanan hidupku, dan kusadari bahwa akhir2 ini aku beberapa kali mengambil keputusan yang aman. Tidak semata dengan hati. Tapi semata karena ketakutan, keinginan berlindung pada zona aman, maupun keengganan mengambil resiko.

seven_pounds

Dalam Seven Pounds, tokoh Tim(Will Smith), seseorang yang dihantui rasa bersalah dan karenanya memutuskan untuk mati, memberiku semacam pesan tentang cara memperlakukan hidup sebelum kematian. Ia memang ekstrim. Tim mendonorkan paru2 sebelahnya, lobus kanan hatinya, memberikan rumah, membagi sumsum tulang, dan akhirnya mati dengan membagi jantung untuk kekasihnya, selain kedua matanya untuk seorang teman.

Tim mengatakan padaku, bahwa sudah seharusnyalah kita memperlakukan hidup dengan baik, dan mempersiapkan diri menjelang mati. Karena satu2nya kepastian dalam hidup adalah : kematian.

Pengetahuan itu sudah lama ada tapi tak pernah sungguh2 disadari.

Satu saat, aku pasti mati. Sedang menjadi penulis, menjadi kaya atau miskin, masih di ambang pintu kata mungkin.

Satu2nya kebenaran, kata Komaruddin Hidayat adalah : tiap menit perjalanan waktu, makin dekatlah kita dengan kematian.

Dengan premis ini maka satu2nya hal yang perlu dipentingkan dalam hidup adalah mempersiapkan kematian yang baik. Atau dengan kata lain : membuat hidup kita sungguh2 berharga. Berharga untuk diri sendiri. Dan tentu saja di mata Allah, Tuhan yang Maha Lembut dan Bijak.

Seharusnya konflik batin akibat rasa takut mengambil resiko serta kecintaan pada kemapanan yang terjadi pada film Revolutionary Road tidak mendapat tempat dalam hidupku.  Setidaknya menurut kamus Seven Pounds.

What do you think?

Langit Senja dan Matahari, Musa dan Khidir

Udara penat lab cath (laboratorium kateterisasi) masih terasa dalam kepala saat kaki melangkah ke dalam angkutan kota. Aku ingin segera pulang ke rumah, meletakkan kepala dan tidur. Dua PCI kasus infark miokard akut, satu PTMC pasien mitral stenosis, dan satu kateterisasi diagnostik prolaps katup mitral dalam sehari sangatlah cukup untuk mencipta tumpukan laktat dalam ototku. Dokter Imam memang sudah masuk sebagai yuniorku di lab cath, tapi ia baru berusia 1 minggu di bagian invasif jantung. Jelas betisku masih harus bekerja keras.

Angkot yang kutumpangi kebetulan kosong, karenanya sopir menginjak gas dengan hemat, menembus senja yang meradang di langit. Akibatnya rasa kantuk menyergap.

Adzan magrib baru saja selesai saat mobil bobrok itu tiba-tiba berhenti. Dua sosok manusia, seorang perempuan dan bocah lelaki, masuk membelakangi matahari merah senja. Bau apek debu bercampur amis keringat menusuk hidung.

Perempuan itu lebih muda dariku, sekitar 30-an tahun. Namun wajahnya gelap tua, keriput menggurat dalam di kening. Sekilas matanya selelah mataku, tapi kelelahannya berasal dari jenis yang lain. Terasa ada yang kosong di sana, satu ruang hampa yang mungkin dulu berisi harapan.

Rambut ikal sebahu yang sebagian merah tak sehat jatuh di kedua pipi tirusnya. Baju kuning tua kusam, yang begitu mirip dengan baju lama yang kuberikan pada bekas pembantu di Bengkulu, robek di bagian bahu. Jemari berkuku kotor memegang erat dua lembar ribuan. Pas untuk ongkos. Mungkin satu-satunya uang yang ia punya.

Begitu mereka naik, mobil bobrok bergerak. Si bocah duduk tepat di depanku. Kakinya tak bersandal, hitam dibalut busik putih berdebu. Celana dan kaos gombrang lusuh membungkus tubuh teramat kurus. Aku tak yakin ia sekolah. Kalau ya, mungkin ia akan jadi murid terkecil di kelas satu SD. Tangannya memegang dua bungkus mi instant. Merek murahan, harga di warung cuma tujuh ratus lima puluh rupiah.

Merasa kuperhatikan, tiba-tiba bocah lelaki itu menatap mataku. Seperti gerak lambat film-film lama, bola hitam matanya terasa menembus dalam, menelan, membuatku tenggelam dalam buncah bersalah.

Belum usai dengan kejutan pertama, slow motion itu dilanjutkan dengan bunyi crik-crik pengamen mendekati kami, dilatari back light senja yang begitu jingga. Mata bocah lelaki berkelebat menjauh, mencari lamat-lamat suara cempreng di udara.

Seorang balita perempuan tiba-tiba saja nongol di pintu angkot, menyanyikan lagu usang milik Iwan Fals.
kemesraan ini, janganlah cepat berlalu…
kemesraan ini, akan kukenang selalu…
hatiku damai….

Masih tercekam dalam potongan adegan absurd itu, tanganku tak kuasa bergerak. Untuk melambaipun tidak. Lagi pula aku memang tipe rasional yang tak percaya bahwa memberi pengamen jalanan akan memperbaiki taraf hidup.

Namun tiba-tiba lagu berhenti dan keributan dimulai. Tangan perempuan itu menengadah, meminta mi instant di tangan bocah. Lelaki kecil bermata hitam menggeleng, menggumam tak jelas. Tak sabar tangan perempuan merebut tapi si bocah tak hendak mengalah. Mereka tarik menarik sepotong mi instan 750-an, seakan itu adalah harta terakhir yang paling berharga di dunia. Terdengar suara ’keretak’ patah potongan mi. Perempuan itu menang, melelehkan air mata bocah.

Adegan selanjutnya sangat menusuk hatiku. Diiringi pandangan mata basah bocah, diulurkannya sebungkus mi pada pengamen cilik itu. Satu-satunya senyum, tapi kurasa itu adalah senyum terbaiknya sepanjang hari ini, diberikannya pada gadis kecil yang bahkan bajunya jauh lebih bagus dari yang mereka pakai. Guratan keriput di dahinya sesaat menghilang, kilatan senja bahkan membuatnya hampir mirip seorang malaikat.

Tapi sesaat kemudian mata perempuan itu kembali kelam. Jemarinya mengelus lembut kepala bocah lelaki yang tersedu sedan, sembari tangan kecilnya menggenggam erat-erat mi instannya yang kini tinggal satu. Angkot berderak laju.

Otak yang tersumbat emboli membuatku tertinggal waktu. Tak menungguku bersiap, seakan untuk selamanya, tangan perempuan itu bergerak memencet bel di atap angkot. Kami bersitatap, mata lelah perempuan itu begitu hitam kelam, dilambari putih yang menghisap. Mobil berhenti, mereka bergegas turun. Dunia mapanku terguncang. Aku menggigil. Entah kenapa aku merasa kehilangan sesuatu. Seperti langit senja kehilangan matahari. Seperti Musa ditinggalkan Khidir*.

ditulis berdasar pengalaman seorang kawan, dr. Sri Hastuti.

*Khidir adalah seorang nabi, yang pernah diikuti oleh Musa dalam satu perjalanan. Tetapi Musa tidak sanggup bersabar, dan karenanya tidak lagi diijinkan mengikutinya.

(sebuah tulisan lama)

Rahasia Sebelum Mati

Sebelum mati, agar kita tak menyesal, kata John Izzo, inilah hal2 yang mesti diketahui :

1. Jujur dan kenalilah panggilan hati. Impian. Hasratmu yang terdalam.

2. Beranilah mengambil resiko, terutama jika itu menyangkut panggilan hati dan  impian2mu. Jika tidak, satu hari nanti sangat mungkin kita akan menyesal.

3.  Belajarlah mencintai.

4.  Hayati tiap detik hidup. Tiap huruf yang kau baca. Tiap kalimat yang kau ketik. Karena hari ini takkan terulang. Jangan menyesali masa lalu, ataupun risau tentang masa depan.

5. Banyak-banyaklah memberi.

Mungkin lima hal itu bukanlah rahasia. Tapi sayangnya, aku sudah lama sekali tak mengingatnya. Untukku, buku ini bagus. Bagaimana menurut Anda?

izzo

Telah diterjemahkan dan diterbitkan oleh Ufuk Press, November 2008.

Mengurai Benang Kusut Aborsi(Jawa Pos 23/11/08)

Layaknya siklus tahunan, sekali lagi kasus aborsi ilegal mencuat. Sepanjang 2007, ada 2 dokter di Surabaya yang terjerat hukum karena melakukan aborsi. Kini, seorang dokter kembali berkubang dalam lubang yang sama.(JP 15/11/08). Mengapa hal ini terjadi?

Salah satu jawabnya adalah karena adanya permintaan yang tinggi dari masyarakat untuk tindakan aborsi. Berdasar data organisasi kesehatan dunia WHO pada 1998, sekitar dua juta perempuan di Indonesia melakukan aborsi setiap tahunnya. Jumlah aborsi tersebut adalah yang terbesar atau lebih 70 persen dari semua kasus di Asia Tenggara.(Kompas 28/8/08).

Di satu kesempatan lain, seorang Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN mengatakan, setiap jam terjadi 300 aborsi di Indonesia, dan 700 ribu di antaranya dilakukan pada perempuan berusia kurang dari 20 tahun. Ini berarti termasuk Lina(nama samaran), gadis Surabaya berusia 15 tahun yang bersama dr YA menjadi tersangka.

Selain Lina, siapa saja yang melakukan aborsi? Ternyata sebagian besar bukanlah teman-teman-teman Lina, remaja tanggung yang hamil di luar nikah. Sebuah penelitian di Surabaya menunjukkan bahwa 60 persen pelaku aborsi adalah ibu rumah tangga. Penelitian Indraswari dari Unpad juga menemukan bahwa 85 persen pelaku aborsi telah menikah. Penelitian yang diselenggarakan oleh Population Council pada tahun 1996-1997 di klinik swasta dan klinik pemerintah bahkan menunjukkan bahwa 98,8 persen klien aborsi adalah perempuan menikah dan telah punya 1-2 orang anak.

Selain hamil di luar nikah dan gagal KB, alasan lain melakukan aborsi adalah karena perkosaan dan janin yang menderita cacat berat. Intinya adalah saat seorang perempuan mengalami kehamilan yang tak diinginkan, dari sanalah aborsi tampak sebagai salah satu jalan keluar. Beberapa perempuan mencari bantuan medis, sedang yang lain memutuskan mencari pertolongan dari pihak tak berkompeten. Terjadilah komplikasi yang serius seperti perdarahan dan infeksi.

Prof Dr Gulardi SpOG mengatakan, angka kematian ibu (AKI) yang berkisar 300-an per 100.000 kelahiran hidup itu disusun oleh sekitar 11-13 persen kasus aborsi. Sumber lain malah menyatakan kalau aborsi sebenarnya menyumbang hingga 50 persen kematian ibu.

Apa yang terjadi di dunia nyata jelas berhadapan dengan hukum di Indonesia. Sumpah dokter dan kode etik melarang mereka melakukan aborsi, begitu pula dengan UU kesehatan no 23 tahun 1992. KUHP pasal 348 memberi ancaman pidana maksimal lima tahun untuk tindakan aborsi tanpa indikasi medis.

Tidak seperti hukum negara kita, agama islam sebenarnya masih memberi ruang untuk perbedaan pendapat. Sebagian ulama membolehkan aborsi yang disengaja sebelum umur kehamilan 120 hari, sedang sebagian membolehkan sebelum usia 40 hari. Yang lain mengharamkannya, kecuali atas indikasi menyelamatkan nyawa ibu. Pendapat terakhir inilah yang banyak dianut oleh ulama Indonesia.

Seorang ulama klasik, Ibnu Abidin al-Hanafi bahkan berpendapat bahwa tidak diperkenankan kepada siapapun untuk menggugurkan kandungannya meskipun khawatir akan membahayakan jiwa sang ibu. Menurut beliau, hal ini karena pada dasarnya kematian ibu tersebut hanyalah dugaan manusia semata.

Bagaimana dengan MUI? Saat ini fatwa MUI membolehkan tindakan aborsi jika kehamilan tersebut membahayakan ibu, dan juga pada kasus pemerkosaan dimana umur kehamilan belum mencapai 40 hari.(hidayatullah.com 9/11/06)

Lantas, apa yang kini harus dilakukan? Satu hal yang harus disadari bahwa kasus aborsi tidak bisa dipandang secara hitam putih. Apalagi dengan pola pikir bahwa mereka yang melakukan aborsi adalah makhluk berdosa, dan karenanya tak perlu diperhatikan, tak perlu dipikirkan nasibnya. Bila pola tersebut yang kita pakai, maka tak akan pernah ada jalan keluar. Kita laksana seorang pertapa di tengah riuhnya pasar, dan kita menutup mata terhadap dunia sekitar.

Beberapa tahun lalu, seorang ibu beranak 3 menemui saya karena gagal ber-KB, meminta agar kandungannya yang berumur 1 bulan digugurkan. Ia tampak sangat tertekan, saya tahu, perasaannya tengah terguncang. Saya membujuknya untuk membatalkan niat, berlindung di balik dalil agama, moralitas, sumpah dokter, KUHP, dan UU. “Tapi Dok, suami saya sekarang tidak bekerja, saya ini miskin. Siapa yang akan membelikan segala kebutuhan bayi ini?” Saya terdiam.

Lantas seperti sebagian besar manusia lain, saya tak tahu kemana ia pergi. Atau mungkin diam-diam, jauh di dalam hati, saya tak peduli. Mungkin ia minum jamu terlambat bulan, atau mencoba bertandang ke dukun untuk diurut perutnya, lantas dimasukkannya tangkai daun dan ramuan ke dalam rahim, yang membuatnya berdarah-darah dan mati. Atau ia pergi ke tempat praktek teman sejawat sejenis dr Edwin, dr Halim dan dr YA? Entahlah.

Menyelesaikan kasus aborsi ilegal seperti kasus Lina dan dr YA, adalah mengurai benang kusut pendidikan seks, dan masalah sosial ekonomi. Jika Anda termasuk dalam golongan yang anti legalisasi aborsi, maka Anda harus bekerja keras untuk mensejahterakan rakyat, membuat mereka lebih terdidik, menyebarluaskan alat kontrasepsi dengan angka kegagalan serendah mungkin, menekan tayangan televisi dan majalah porno, membuat remaja sekitar rumah sungguh-sungguh bertakwa, menyuluh pendidikan seksual pada para ABG, dan hal-hal lain yang mencegah masyarakat berpikir kalau aborsi adalah solusi.

Sekolahkanlah anak tetangga yang tidak mampu, bukalah lapangan pekerjaan, bagilah makanan pada tetangga, dan ajaklah anak-anak mereka berangkat ke tempat ibadah. Karena jika tidak, itu sama saja dengan membiarkan luka karena masalah aborsi itu terus membusuk. Dan kita melakukan kebijakan setengah hati, sambil tetap merasa bersih, berasa suci di tengah bau busuk itu.

Bagaimana jika hati kecil Anda menyetujui legalisasi aborsi dalam lingkup terbatas, oleh tenaga ahli dan dengan aturan yang ketat? Jika tidak bermental baja, mungkin diam lebih baik. Sebab jika Anda bersuara, maka bersiaplah untuk mendapat cemooh, dicap sekuler dan liberal, beriman kurang, bahkan tak bertakwa.

Apapun pilihan kita saat ini, mungkin tak seharusnya kita berpikir sempit dan merasa paling benar. Tak ada yang sungguh-sungguh hitam. Seperti juga tak ada yang sungguh-sungguh putih. Kyai Mustofa Bisri pernah menulis, kebenaran kita berkemungkinan salah, kesalahan orang lain berkemungkinan benar. Hanya kebenaran Tuhan yang benar-benar benar.

ditulis  di Apartemen Sawo Kecik,  Bontang, Kaltim

Memilih dan Menerima Takdir

pilihan

Beberapa hari lalu, aku merasa malu dengan sandal jepitku. Meskipun nyaman dipakai, ternyata ia sudah butut. Lantas masuklah aku ke Ramayana Bontang (swalayan terbesar di sini), kucari sandal baru yang menurutku, tampangnya lebih lumayan. Harganya tentu lebih mahal.

Tiga hari berlalu, ternyata sandal baru itu lebih berat dan permukaan talinya yang ‘keren’ membuat kakiku lecet.  Aku jadi mudah capek dengan sandal baru itu.

Sore ini, di depan kamar, entah kenapa mataku jatuh pada mereka berdua, lantas tersirat, bahwa Allah ingin aku berpikir. Lantas  belajar untuk menerima takdir.

Mengingatkan pada satu hal, bahwa apa-apa saja yang kita pandang baik, belum tentu baik menurut Allah.  Dan apa-apa yang dipandang jelek di sisi manusia, belum tentu jelek di sisi Allah.

Allah Maha Tahu. Kita tak tahu apa-apa.