Hari Ini Tengah Membaca : Bilangan Fu, by Ayu Utami
DIarsipkan di bawah: perjalanan | Tidak ada komentar »
DIarsipkan di bawah: perjalanan | Tidak ada komentar »
Hari ini adalah hari pertama gadis kecilku sekolah.
Kupikir ia cukup tangguh untuk langsung kutinggal, karenanya aku hendak terus memutar motor ke rumah sakit. Tapi entah kenapa hatiku tak tenang.
Lantas aku pun turun. Melangkah masuk ke halaman sekolah.
Tergagap di tengah lautan manusia kecil.
Mencoba mencarinya di deretan anak-anak baru. Tak ketemu.
Beberapa menit berlalu. Dimana gadis kecilku?
Ternyata ia ada di luar barisan, berdiri sendiri, di dekatku.
Syukur Tuhan masih mempertemukan kami.
”Nduk, kenapa di sini, kelas satu kan di sana?”
”Tadi aku ditinggal Bapak.”
Jawaban itu terasa benar menusuk. Sebagian ibu-ibu anak2 baru memang berdiri di sana, mengawasi buah hati mereka.
Ah, sesungguhnya, aku tak rela memberikan sebagian waktu anakku pada sekolah.
Mereka yang berisi peraturan dan larangan, tetapi sering lupa memberi alasan. Sekolah yang membebani, yang sering tak membahagiakan.
Atau ini cuma rasa sedih seorang bapak karena anaknya tak lagi kecil?
Aku ingin sekali bisa menungguinya. Memastikannya tak sendiri di tengah manusia. Tapi kurasa pilihan itu pun tak bijak. Tak memandirikan. Tak mendidik.
Akhirnya dari jauh kutinggal ia. Karena mungkin ia sesungguhnya tak sendiri. Ia akan menemukan teman.
DIarsipkan di bawah: manusia-manusia, perjalanan | yang berkaitan: Sekolah | 1 Komentar »
Siang tadi, di sebuah seminar, sebuah pertemuan mengingatkanku pada sebagian mozaik masa lalu. “Darimana?”tanyaku. ”Purworejo.” Jawaban itu terasa lembut di telinga dan hatiku. Sungguh tak kusangka kalau di Surabaya, aku akan bertemu dengan seseorang yang akan menyebut nama kota yang pernah mengisi hari-hari masa kecil.
Akibatnya sisa hari iniku penuh dengan ingatan tentang perjalanan dari Semarang menuju Purworejo menjelang lebaran yang dulu sering kulakukan. Semata untuk menengok Simbah Putri, yang saat itu sudah begitu sepuh.
Itu adalah momen yang tak terlupakan. Karena tiap kali menuju ke sana, sering sekali Bapak menghentikan mobil tuanya, berhenti di pinggir jurang jalur Magelang-Purworejo. Tiap tahun kami tak pernah lupa, dan memang mudah sekali menemukan lokasi itu. Karena tempat itu adalah turunan paling curam sepanjang Magelang- Purworejo. Pemandangannya indah. Jauh di bawah sana tampak arus sungai mengalir deras di sela batu gunung.
Ibu, Bapak, aku dan adik lelakiku menggelar tikar, membuka bekal makanan, mengurai penat. Sungguh, aku ingin sekali bisa mengulang peristiwa itu.
Tiap lebaran tiba, saudara-saudaraku dari Jakarta sering sudah datang lebih dulu di rumah Simbah. Rumah Simbahku, seorang pensiunan pegawai PJKA, tampak tua. Tempatnya tak terlalu jauh dari alun2 dan gedung eks Sekolah Pendidikan Guru, terletak dekat dengan komplek sekolah dasar. Saudara-saudaraku dari Jakarta tampak percaya diri. Termasuk dalam menghadapi masa depan. Tapi setelah tahun2 berlalu, barulah aku tahu, bahwa tidak semuanya akan berakhir seperti yang kita ramalkan.
Malam2 di Purworejo adalah malam yang sunyi. Tapi masih lebih ramai daripada desa tempatku tinggal di masa kecil bersama Bapak dan Ibu. Kami, keturunan Martodihardjo, kadang berjalan menuju alun2 Purworejo, sesekali minum wedang ronde di bawah bintang. Pulangnya pun tetap jalan kaki. Berlari-lari di tengah jalan (jalan Pahlawan?) yang kadang terasa betul sepinya.
Habis sholat Ied di masjid besar, biasanya kami ke makam Simbah Kakung. Menabur bunga. Berdoa. Berharap malaikat tak segera menarik tangan lembutnya saat Ramadhan berakhir.
Pertemuan siang tadi mengingatkanku tentang sumirnya waktu, rapuhnya kita ditelan masa. Sekaligus indahnya masa lalu, serta masa kini yang harus betul2 kujaga.
Terima kasih pada kawanku. Juga pada semangat yang kau tunjukkan dengan datang ke pikuknya Surabaya, jauh dari Purworejo yang hening. “Semangat, itu satu-satunya yang kumiliki saat ini.” Kalimat yang bagus. Mengingatkanku pada idealisme bertahun lalu saat memulai perjalanan ini.
Tidak ada yang kebetulan dalam hidup. Pasti ada alasan mengapa Allah menciptakan pertemuan itu. Terima kasih.
DIarsipkan di bawah: seputar hidupku | yang berkaitan: Pertemuan, Purworejo | 3 Komentar »
Dirgo (nama samaran), seorang penderita HIV/AIDS (ODHA) stadium 4 yang ditolak pulang oleh warga seputar tempat tinggalnya di Surabaya bukan yang pertama mengalami nasib nahas itu. Mungkin juga bukan yang terakhir (Jawa Pos 29/6/08). Untuk kalangan medis pun, menghadapi dan merawat seorang penderita ODHA bukan perkara mudah.
Apalagi bagi masyarakat awam. Sebagian besar kita masih memiliki rasa enggan, mirip perasaan suci yang dimiliki seorang rahib Bani Israil, saat seorang pemuda bertanya, “Aku telah membunuh 99 manusia, masih adakah jalan bagiku untuk bertobat?”(HR Bukhari/Muslim). Tidak ada. Jawaban singkat itu mewakili kesombongan sebagian besar manusia. Seakan merekalah yang memiliki pintu-pintu surga.
Padahal, siapa tahu kalau sebenarnya pintu tertutup untuk ODHA adalah pintu Tuhan yang terbuka? Pintu terbuka yang mengajarkan ODHA memanfaatkan sisa hidup dan mengakhirinya dengan layak. Dan mungkin pintu terbuka untuk kita agar bisa berkaca, lebih rendah hati, dan akhirnya mati dengan layak pula. Kematian yang belum tentu lebih mulia dibanding mereka.
Penolakan warga itu sekaligus menggambarkan ketidaktahuan masyarakat tentang permasalahan HIV/AIDS di Surabaya. Layaknya puncak gunung es, jumlah penderita HIV/AIDS terus meningkat. Pasien di Unit Perawatan Intermediate Penyakit Infeksi (UPIPI) RSU dr Soetomo terus bertambah. Tiap hari hampir selalu hadir pasien baru yang datang berobat di unit khusus tersebut. Sering, UPIPI kehabisan tempat tidur untuk menampung luapan pasien yang opname. Sebagian dari mereka ada di stadium akhir penyakit AIDS.
Kini HIV/AIDS bukan lagi penyakit milik para pecandu narkotika, homoseksual, wanita PSK, dan pria penggunanya. HIV/AIDS adalah penyakit yang penyebarannya telah menggerogoti sendi kehidupan keluarga dan masyarakat. Menurut UNAIDS, badan PBB yang mengurusi HIV/AIDS, sampai akhir 2006 diperkirakan terdapat sekitar 170.000 orang dengan HIV di Indonesia. Adalah tidak mungkin jika semuanya diisolasi, dirawat, dan ditampung di rumah sakit.
Pada 2007 lalu, Dinkes Jatim memperkirakan jumlah penderita AIDS akan mencapai 13 ribu orang lebih di Jawa Timur. Tentu saja dengan Surabaya sebagai top scorer. Karena itu ya, sudah saatnya masyarakat Surabaya tak lagi mengandalkan rumah sakit pemerintah untuk menampung penderita ODHA stadium akhir. Terlalu banyak ODHA untuk sebuah rumah sakit rujukan di Surabaya. Jumlah yang akan terus bertambah.
Apalagi karena masih ada sumber penularan HIV di Surabaya yang dibiarkan hidup di tengah kota oleh pemerintah dan masyarakat. Satu sisi kita menolak Dirgo, di sisi lain kita menerima Dolly sebagai ciri khas kota Surabaya, Kota Prostitusi (dengan P besar). Menurut KPA, ada sekitar 9.125 perempuan PSK di Surabaya. Sedangkan jumlah pria pemakai jasa mereka mencapai 133.776 orang, termasuk di dalamnya para suami.
Ibu-ibu yang berbisik-bisik membicarakan nasib Dirgo pun tak lepas dari ancaman HIV/AIDS. Apalagi para lelaki pengguna PSK. Tidakkah mereka tahu kalau kondom, yang menjadi andalan mereka hanya memiliki efektifitas 85 persen di dunia nyata?
Albert Camus dalam novel La Peste menulis, cara termudah untuk mengenal sebuah kota adalah dengan mengetahui bagaimana penduduk di sana bekerja, bercinta, lalu mati. Kalimat itu sudah terbukti untuk kota Surabaya. Kita memiliki Dolly, lokasi bercinta terbesar di Asia Tenggara. Kita juga punya Dirgo, manusia asing yang ditolak untuk mati di rumahnya sendiri.
Seorang pejabat Depkes pada suatu kesempatan memperkirakan ada 10 bayi yang lahir dengan HIV di Indonesia setiap hari. Mereka lahir dari rahim Ibu penderita HIV/AIDS, yang jumlahnya terus membuih. Di RSU Dr Soetomo misalnya, mulai 2000 hingga Maret 2007, tercatat 180 penderita HIV/AIDS perempuan se-Jatim. Sejak pertengahan 2006 rata-rata terdapat tiga pasien perempuan per bulan jika dibanding dulu yang hanya satu per bulan.
Di sebuah daerah di pelosok Afrika, wabah HIV/AIDS sudah begitu dahsyat hingga setiap minggu digali beberapa kuburan baru. Tiap minggu pula terlahir bayi yatim yang positif HIV, bayi yang beberapa saat mendatang menjadi yatim piatu karena sang ibu juga akan meninggal akibat AIDS. Sebelum pada akhirnya mereka juga menyusul. Meski belum sedahsyat itu, siapa tahu Surabaya tengah menuju ke sana?
Sebut saja Sumbi, seorang perempuan yang pernah duduk berhadapan dengan saya di ruang tunggu UPIPI RSU Dr Soetomo. Wajah manisnya terkesan tua, tampak kusut dengan mata cekung bergurat lelah. Ia berumah di satu desa di pelosok Lamongan. Suaminya, seorang sopir yang bekerja di luar kota, baru saja meninggal karena AIDS. ”Saya sekarang sendiri Dok. Saya positif,” kata perempuan itu singkat menyentak.
Begitu juga dengan Sumi dan Nana (bukan nama sebenarnya), dua orang balita yatim piatu dari Surabaya yang mengidap HIV. Tidakkah mereka juga berhak untuk hidup layak, dan kemudian mengakhiri hidupnya dengan mulia?
Suatu hari, seorang jurnalis bertanya pada seorang ODHA yang putus asa. “Mengapa tak belajar menjadi daun, yang tetap bermanfaat bagi kehidupan kendati telah rontok ke tanah? Dimana saat layu dan kering, ia bisa menjadi kompos, yang kemudian di atasnya tumbuh tunas pohon?” Pertanyaan indah itu begitu menusuk. Meratakan harga diri dan kesombongan saya. Sebagai manusia, tak peduli karena HIV atau karena tertabrak mobil yang tiba-tiba memotong trotoar, kita toh tetap akan mati.
Mungkin sudah saatnya kita belajar dari Dirgo, Sumbi, Sumi dan Nana. Mari kita bantu ODHA untuk belajar menjadi daun dalam sisa hidupnya, dan siapa tahu kita pelan-pelan akan berubah pula menjadi daun. Daun yang tetap bermanfaat meski ia telah layu, kering, rontok dan mati.
DIarsipkan di bawah: artikel termuat di JAWA POS, kebijakan dunia kesehatan, manusia-manusia | yang berkaitan: HIV, AIDS, ODHA, Penolakan, Kesombongan Manusia | 6 Komentar »
Sebelum kucacah jiwaku, kutulis dalam blogku hari ini : aku sedang tidak ingin bercinta. Tapi terasa itu bohong belaka. Aku terdorong dalam lubang. Sekadar bergerak dalam kelam. Karena aku kangen padamu. Kangen yang tak kunjung padam.
Memang sudah jadi takdirku untuk selalu jatuh cinta tiap kali memikirkanmu. Jadi bayangkan, bagaimana payahnya jatuh cinta berkali-kali dalam sehari hanya gara-gara memikirkanmu? Dan sialnya, bukan pada siapa-siapa. Tapi cuma padamu. Cuma padamu kekasihku! Mungkin banyak orang akan bilang kalau aku cuma mengejar bayangan senja. Tapi kau adalah senja yang nyata, dan tiap saat memikirkanmu membuatku sengsara. Aku capek. Aku capek jatuh cinta padamu. Tapi, adakah yang bisa menyelamatkanku?
Saat ini aku lewat di depan kafe tempat pertama kali kita ketemu dulu, dan entah kenapa aku ingin sekali memencet nomormu, mengajakmu jalan-jalan di sore yang pasti akan membuatmu begitu mungil dalam tempias cahya. Sayangnya aku masih ingat sms-mu : mas, sore ini aku mesti menemani anakku. ini hari pertama les inggrisnya. sabar ya…
Lantas berhentilah aku di sini. Duduk di atas jembatan layang, melihat kereta gemuruh di kejauhan…
postingan ini adalah bagian pembuka dari sebuah cerpen yang sudah lama kubuat…
DIarsipkan di bawah: cerita pendek | yang berkaitan: Cerpen, Jiwa | 3 Komentar »
Tiba-tiba siang ini di ruang catheterisasi menggaung lagu Sherina : Sendiri. Salah seorang perawat pasti telah memutarnya. Menggeser Padi, Dewa, dkk yang biasanya terdengar saat kami tengah bekerja memperbaiki jantung manusia.
Tapi entah kenapa lagu itu terasa lekat. Mengingatkanku pada lagu Cherry Bombshell yang pernah kudengar bertahun lalu.
Sendiri. Bukankah semua manusia toh akhirnya sendiri? Bukankah tak ada perbincangan yang terjadi selamanya? Bukankah akan selalu ada perpisahan, meski itu hanya membuat senja makin temaram?
Sendiri
Link download ada di sini
DIarsipkan di bawah: perjalanan | yang berkaitan: Lagu, sendiri.., Sherina | 2 Komentar »
Di satu siang yang penat aku pulang ke rumah. Berliku memasuki gang, mataku terhenti pada sosok baju coklat pramuka yang berjalan payah ke depan. Seorang anak lelaki, mungkin baru berusia 16 atau 17 tahun, tengah bekerja keras menarik sebuah gerobak penuh sampah. Keringat penuh dan basah. Bau busuk menusuk. Aku merasa kasihan pada anak lelaki berbaju pramuka yang mesti bekerja dengan ribuan bakteri di punggungnya.
Tapi mungkin rasa kasihan itu tak perlu. Saat bersitatap, kulihat ada cahaya di matanya. Senyum tipis menghiasi wajah.
Anak lelaki itu sepertinya tak menyimpan lelah dan rasa sesal. Ia menikmati hidupnya.
Sedang aku? Saat itu pula aku tengah berpikir tentang beban hidup yang belum juga lapang. Tugas2 yang menumpuk. Uang bulanan yang tak jelas. Cita-cita yang masih jauh di awang.
Senyum anak muda itu membuatku merasa sedih. Mungkinkah ia merasa terjebak dalam pekerjaannya sekarang? Atau ia bahagia?
Satu hal yang jelas, mungkin Tuhan tengah mengirim lelaki muda itu agar aku bisa berkaca pada mata dan senyumnya. Hidup tak pernah seutuhnya mudah. Tapi toh ia harus diterima. Lain itu tidak.
DIarsipkan di bawah: manusia-manusia, seputar hidupku | yang berkaitan: Sampah, Pramuka | Tidak ada komentar »
Salah satu ruang kelas di SDN Pacarkeling ambruk. Membaca berita itu (Jawa Pos, 10/6), barulah saya tersadar. Mengapa ada yang hilang dari otak saya? Berikutnya, saya pun mengetahui mengapa bangsa ini masih saja terpuruk? Jawabannya adalah karena pendidikan telanjur dipandang sebelah mata.
Bangunan sekolah telantar dan keropos, tiba-tiba atapnya ambruk. Alasannya lagi-lagi terkait dengan birokrasi. Tapi, masih bersyukur, tidak ada siswa yang tertimpa dan mati. Di lain SDN, kalau toh tidak rusak, banyak ruang kelas sekolah di Surabaya yang overload atau sesak siswa. Padahal, ada anggaran Rp 1.290.000.000.000 sisa anggaran APBD Surabaya 2007 yang menganggur tak terserap (Jawa Pos, 10/6). Ironis!
Sebagian orang bisa saja bertanya kritis, buat apa bersekolah? Toh, sekolah tak selalu menjanjikan masa depan. Thomas Alfa Edison berhenti sekolah pada usia 12 tahun dan dia menjadi orang besar. Apa jadinya jika dia terus bersekolah? Mungkin dia akan berhenti bertanya, mencari, dan bereksperimen, lantas mengisi otaknya dengan hafalan nama-nama menteri serta dan ibu kota negara-negara dunia. Informasi yang jarang kita perlukan dan hanya memenuhi otak. Tapi, untuk bangsa yang sakit ini, tidakkah kita tetap memerlukan institusi beratap bobrok dan sesak itu?
Sepuluh tahun lalu, saya membaca kisah Tetsuko Kobayashi. Dia bercerita tentang sebuah sekolah yang membahagiakan. Totto Chan tua itu pada akhir novelnya menulis. ”Aku yakin, di mana-mana di dunia ini ada banyak pendidik yang baik, yang bermimpi bisa mendirikan sekolah yang ideal. Sayangnya, aku tahu betapa sulitnya mewujudkan impian itu.”
Sulitnya mendirikan sekolah ideal tersebut digambarkan Dr Mochtar Buchori, mantan rektor IKIP Muhammadiyah Jakarta. Menurut dia, sistem pendidikan yang diberlakukan di Indonesia saat ini merupakan kelanjutan sistem yang bersifat elitis eksklusif. Kurikulumnya hanya bisa diikuti oleh 30 persen peserta didik, sedangkan 70 persen lainnya tak bisa mengikuti. Ketika jumlah yang 70 persen itu dipaksakan terus mengikuti, terjadilah pengatrolan-pengatrolan dan kecurangan lain yang merusak nilai-nilai pendidikan. Itu terbukti lewat huru-hara setiap ujian nasional (unas) berlangsung, misalnya.
Di Surabaya, kota terbesar setelah Jakarta, kita masih sangat jauh dari impian tentang sekolah yang ideal dan bahagia. Kenyataan pahit ada di depan mata. Ada dua pilihan menghadapi fenomena tersebut. Yakni, bisakah kita tanggapi serius runtuhnya atap salah satu sekolah favorit dan banyaknya sekolah bobrok di Surabaya? Atau, kita anggap peristiwa yang wajar terjadi di sebuah negeri penuh korupsi?
Jika kita masih manusia normal, seharusnya kejadian tersebut menyentak kesadaran. Setidaknya, tentang kepedulian Pemerintah Kota Surabaya dan warga kotanya. Apalagi, sejak awal, dana APBD 2008 yang digunakan untuk pendidikan relatif masih cukup kecil. Hanya sekitar Rp 172 miliar atau 7,23 persen dari total APBD Surabaya yang mencapai Rp 3,025 triliun. Persentase angka tersebut masih jauh dari amanat UU bahwa anggaran pendidikan setidaknya 20 persen.
Malangnya, secara nasional (semoga Surabaya lebih baik), berdasar hasil kajian Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran, sebagian besar anggaran pendidikan tidak digunakan untuk program yang berkaitan langsung dengan penyelenggaraan pendidikan. Dana itu lebih banyak dipakai untuk pelayanan dan kebutuhan birokrasi seperti pendidikan dan latihan teknis pegawai, peningkatan kapasitas kelembagaan, serta administrasi kepegawaian.
Entah benar atau salah, kajian forum tersebut mewujud di sini. Pemerintah Kota Surabaya bergerak lamban. Tentu dengan alasan klasik, terbelit birokrasi. Akibatnya jelas, perbaikan gedung sekolah rusak tak juga kunjung usai. Pada 2007, di antara 1.713 sekolah di Surabaya dengan 14.802 ruang kelas yang dimiliki, hanya 12.619 yang berkondisi baik. Sebanyak 1.440 lainnya rusak ringan dan 743 ruang kelas rusak berat. Dengan berlalunya waktu, sudahkah angka itu menurun?
Di sisi lain, warga kota tidak acuh, sibuk menghidupi diri sendiri, dan hanya peduli pada fakta bahwa anak-anaknya berangkat berseragam rapi. Sampai di sekolah, mereka tak pernah berpikir bahwa gedung sekolah anak-anaknya bobrok. Kelasnya pun sumpek. Jumlah guru berkualitasnya kurang, ditambah metode pembelajaran yang masih bermodal ”chalk and talk”. Kapur dan bicara.
Masih jarang guru yang menerapkan pembelajaran mutakhir yang bersifat penalaran kritis dan demokratis. Akibatnya, otak anak-anak kita pun berubah. Dari otak Thomas Alfa Edison sang penemu, otak Tetsuko penulis novel best seller, menjadi otak konsumen, pemakai, penghafal, otak tumpul kreativitas. Malangnya, itu sudah terbukti pada otak saya.
Nah, tentu kita ingin otak anak-anak kita lebih baik kan? Karena itu, mari bergerak bersama. Jangan hanya mengandalkan kelambanan pemerintah. Sumbanglah pikiran dan berbuatlah sesuatu untuk sekolah anak-anak. Sudah saatnya warga Surabaya menciptakan sekolah yang baik untuk anak-anaknya. Apalagi jika kota ini bisa memenuhi impian jiwa mereka. Yakni, membuat sekolah, yang menurut A.S. Neill, menjadi tempat di mana ketidakbahagiaan anak-anak disembuhkan dan anak-anak diasuh serta dididik dalam kebahagiaan. Bukan dalam pola kekuasaan dan keseragaman.
Satu sekolah kukuh yang jika saat ini belum bisa menciptakan orang besar. Setidaknya bukan sekolah roboh yang mengancam otak, jiwa, dan keselamatan anak-anak di dalamnya. Semoga!
DIarsipkan di bawah: artikel termuat di JAWA POS | yang berkaitan: Pendidikan, sekolah ambruk | 2 Komentar »
Aku memang tak sebaik Patch Adam dalam menghadapi pasien.
Tapi aku sudah berusaha mendekatkan diri pada pasien2ku.
Menyapa, bicara, menyentuh mereka.
Menjadikanku bagian dari semesta yang menyembuhkan.
Menyembuhkan seorang manusia.
Tapi kadang itu belum cukup.
Beberapa kali aku gagal.
Hari2 ini aku juga banyak membaca tentang sejarah cardiology intervensi, terutama coronary stenting.
’Dunia elit’ dalam ilmu kardiologi ini dimulai dari Gruentzig, Palmaz, dll.
Dan ternyata sejarah ilmu kedokteran sungguh2 dimulai dari ketidaktahuan.
Para perintis itu berjalan dalam gelap.
Mencoba yang terbaik, seringkali gagal.
Dunia intervensi koroner yang saat ini begitu canggih dimulai dari hal-hal yang sangat sederhana, tertatih-tatih bahkan.
Ia menjadi besar bukan semata karena keberhasilan menyembuhkan, dan kehidupan.
Tapi juga karena ketidakberhasilan. Kesalahan. Kegagalan. Kematian.
Dokter juga manusia.
Dan untukku, mungkin sangat manusia.
Tapi, kurasa sangat tidak lazim jika seorang dokter berkata,
”Ibu, saya akan lakukan usaha terbaik untuk menolong Bapak. Demi Allah saya berjanji.
Tapi bagaimanapun saya bisa saja gagal. Bahkan saya juga bisa melakukan kesalahan, meski kesalahan itu tak mungkin saya sengaja.
Jadi Ibu, apakah Ibu masih tetap mempercayakan perawatan suami Ibu pada saya? Atau Ibu ingin Bapak ditangani oleh dokter lain?”
Ketakutan akan tuntutan malpraktek kini tengah merasuki dunia kedokteran.
Sebagian dokter bahkan mengikuti asuransi yang menjamin pembayaran jika terjadi tuntutan pada mereka. Lantas, siapa yang harus membayar preminya? Pasien mereka juga.
Dunia kedokteran modern tak lagi ramah.
Beberapa dokter melihat pasien yang masuk ruang prakteknya dengan rasa waswas. Sebaliknya, sebagian pasien memandang dokter mereka juga dengan curiga.
Mereka berkata dalam hati, ”Bagaimana jika ia melakukan kesalahan?”
(tulisan lain tentang hubungan pasien dan dokter ada di sini)
DIarsipkan di bawah: pro kontra tentang 'dokter", seputar hidupku | yang berkaitan: dokter, dokter juga manusia, hubungan dokter pasien, malpraktek, Manusia | 4 Komentar »
Pilihan hidup ada di tangan Anda. Apakah Anda memilih naik lift atau mendaki tangga, bermobil atau bersepeda, makan pecel atau hamburger. Yang jelas masih banyak dari kita yang tidak menyadari konsekuensi dari gaya hidup yang kita pilih.
Begitu pula dengan Pak Sukur, ia baru berusia 40 tahun, yang meskipun ia tetap bersyukur karena berhasil selamat dari serangan jantung yang luas, toh tetap menyesal karena ia salah pilih. ”Saya memilih rokok, makan gulai kambing dan nonton sepak bola di televisi dibanding menerima ajakan untuk main bola dengan teman-teman kantor.”
Nah, bagaimana dengan Anda?
Jujur saja, sebagian dari kita memang cenderung memilih pola makan tidak sehat, ini berarti memperbanyak karbohidrat, lemak dan gula, dibanding sayur dan buah. Ditambah dengan rokok, kurang aktifitas dan olahraga. Kehidupan di rumah dan di tempat kerja pun tak lepas dari stres yang menumpuk.
Entah kenapa, mungkin pilihan itu yang lebih mudah dinikmati. Padahal akibatnya jelas. Penyakit yang dulu tak pernah terpikirkan pun mulai datang. Hipertensi misalnya. Saat ini ia tidak lagi didominasi oleh usia tua, tapi usia muda pun rentan terhadap hipertensi.
Padahal jika tidak ditangani dengan baik, hipertensi sebagai konsekuensi dari pilihan hidup yang “salah” bisa menyebabkan banyak gangguan organ tubuh. Termasuk gagal ginjal. Betapa repotnya naik haji dengan selang terpasang di tubuh, dan harus membawa bekal obat-obatan dan cairan yang beratnya hingga 2 kwintal selama proses naik haji.
Begitu pula dengan pembunuh nomor satu di dunia saat ini, serangan jantung. Serangan jantung ternyata makin dini menyerang usia muda, bahkan saat seseorang tengah asyik meniti karir. Mungkin Anda pun beresiko mengalami serangan jantung. Tidak percaya? Coba sekarang Anda ukur lingkar pinggang Anda.
Caranya sederhana. Ambil seutas tali atau pita, lantas lingkarkan di pinggang, kurang lebih pertengahan di antara tulang rusuk dan tonjolan tulang panggul. Usahakan agar tidak terlalu ketat, dan diukur saat menghembuskan napas. Berapa lingkar pinggang Anda?
Sembilan puluh sentimeter adalah batas atas bagi pria, dan 80 cm bagi wanita. Anda lebih dari itu? Wah, sebaiknya Anda mulai waspada!
Ukuran lingkar pinggang yang lebih dari normal menunjukkan kalau Anda sudah terlibat dengan suatu sindroma yang disebut sindroma metabolik. Ini pastilah bukan sesuatu yang menyenangkan. Mengapa?
Sindroma Metabolik adalah suatu kumpulan faktor resiko untuk terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah termasuk stroke. Ia terdiri dari ukuran lingkar pinggang yang di atas normal, kadar trigliserida yang tinggi (≥150 mg/dL), kadar kolesterol HDL yang rendah(<40 mg/dl), tekanan darah > 130/85, dan kadar glukosa darah puasa ≥ 110 mg/dL. Apabila terdapat tiga dari lima kriteria dia atas, maka Anda telah terkena Sindroma Metabolik.
Ini berarti Anda memiliki resiko mendapat serangan jantung hampir 4 kali lipat dibanding seseorang tanpa Sindroma Metabolik. Baca lebih lanjut »
DIarsipkan di bawah: kesehatan jantung | yang berkaitan: Pilihan hidup, Sakit, Sehat, serangan jantung, Sindroma metabolik | 4 Komentar »
baru saja menyelesaikan buku For One More Day-nya Mitch Albom.
buku itu mengingatkanku pada sosok ibu.
ibuku.
ah, adakah yang bisa menggantikan ibu?
bahkan ketika hariku kini telah lewat di atas 30.
beberapa keputusanku, adalah hasil dari didikannya.
sebagian pilihanku, terpengaruh oleh nilai2nya.
dan aku yakin, sebagian besar pencapaianku, terjadi karena doanya.
For One More Day mencambuk keras tentang minimnya rasa syukurku karena masih bisa bertemu ibu.
Bu,
matur nuwun sanget Bu….
DIarsipkan di bawah: resensi buku, seputar hidupku | yang berkaitan: For One More Day, ibu, Mitch Albom, One More Day | Tidak ada komentar »
Menjadi cardiologist tidak harus serupa Braunwald, Hurst, Grossman, Feigenbaum ataupun Topol, dewa-dewa pencipta textbook cardiology.
Patch Adams, dengan caranya sendiri, tetap memberi arti buat dunia kedokteran.
Sekali lagi, aku percaya bahwa tumbuh tidak mesti harus menjulang tinggi, tapi juga dengan mengakar, membagi daun, menyuburkan tanah sekitar rumah.
Tapi, mungkinkah kita menempuh kedua jalan itu bersamaan?
![]()
DIarsipkan di bawah: perjalanan, seputar hidupku | yang berkaitan: Braunwald, Grossmann, Harrison, Hurst, Patch Adams, Topol | 2 Komentar »
kemarin ada sebuah batu yang cukup besar menghadang perjalanan.
dan layaknya batu2 karang lain dalam hidup, ia datang tiba-tiba, tak dinyana dan seringkali membuat sedih.
lantas sekali lagi aku memasrahkan segala sesuatu pada Allah.
Ia telah mengatur hidupku sedemikian rupa.
Ia telah membawaku sejauh ini.
akankah Ia mensia-siakanku? kurasa tidak.
apalagi saat aku mengingat segala hal yang sudah diberikan padaku selama ini.
nikmat hidup, nikmat sehat, nikmat kaki yang kembali bisa berjalan, istri dan anak2ku, pengalaman hidup dan kasih sayang dari pasien2ku, segala yang pernah kumiliki dan kualami selama ini.
lantas memikirkan kembali teman2ku yang sudah tiada, juga almarhum pasien2ku…
sekali lagi, batu yang kini kuhadapi bukanlah apa2 dibanding itu semua…
DIarsipkan di bawah: seputar hidupku | yang berkaitan: batu besar, perjalanan | 2 Komentar »
Work like you don’t need the money.
Love like you’ve never been hurt.
Dance like nobody’s watching.
Sing like nobody’s listening.
Live like it’s Heaven on Earth.
Make today be a good day to die.
Kata-kata yang kusadur entah dari mana itu sampai saat ini belum bisa kupraktekkan. Tapi setidaknya aku tengah berusaha menuju ke sana
Kemarin alhamdulillah aku dapat nomor tiga di Young Investigator Award di ASMIHA.
Satu hal yang kupelajari dari momen itu adalah, kepasrahan menerima takdir Allah. Yakin, bahwa apapun yang digariskan pastilah yang terbaik.
Dulu aku sempat merasa berat saat seorang guru memintaku menambah sample kasus dan mengembangkannya menjadi sebuah penelitian. Tapi ternyata dari peristiwa itu tercipta banyak hal. Sangat banyak malah.
Aku sangat berterima kasih pada guru-guru yang telah mendorong dan membimbingku. Juga teman2 yang telah memberi semangat. Bang Emil, mbakyu2 : Umira, Ika, Evy. Juga Yusuf A.
Allah sesungguhnya sangat menyayangiku.
Ia menyayangi kita semua. Aku yakin itu.
DIarsipkan di bawah: perjalanan | 1 Komentar »
Aku kembali lagi ke Jakarta.
Ikut ASMIHA di Ritz Carlton. Besok maju Young Investigator Award. Tulis anakku di sms : Bapak harus menang.
Amin. ![]()
DIarsipkan di bawah: perjalanan | 1 Komentar »
Malam ini Geger Band, sebuah band perempuan yang dibentuk tahun 1996, main di Balai Pemuda, Surabaya. Formasi mereka kini : Intan(vocalis baru), Dewi(drummer), Hera(gitar), Cynthia(bass), Wiwik(keyboard).
Acara formal semalam berjudul : Kartini Nite. Tapi buatku, ini malam kenangan. Lagu2nya Guns and Roses, Cranberries, semua digeber habis. Ternyata mbakyu-mbakyu di Geger Band masih kuat juga nyanyi. Dari jauh juga masih terlihat cantik. Terutama Mbak Dewi. Meski setelah dekat, terlihat juga keriputnya.
Aku yakin tidak banyak (atau bahkan nggak ada?) resident dan dokter, yang menyempatkan diri untuk nonton konser music rock seperti ini. Apalagi yang seumuran aku. Tapi, kurasa ini memang sudah nasib . Kata seorang teman, otak kananku terlalu berkembang. Buset dah…
Meski Geger cuma main sebentar, tapi lumayan, bisa ngobatin kangen pada lagu Rock saat aku SMA dan kuliah dulu. Geger Band, maju terus! Viva Rock n Roll! Halah….!
DIarsipkan di bawah: perjalanan | yang berkaitan: Geger band, Surabaya | Tidak ada komentar »
Tulisan ini dibuat sebelum Pak Harto meninggal dunia. Sayangnya, tidak dimuat di media manapun.
Silakan membaca. Semoga bermanfaat.
oleh dr. M. Yusuf Suseno
Mengapa kondisi mantan Presiden Soeharto memburuk dan mengalami kegagalan fungsi multi organ? Pertanyaan tersebut banyak dilontarkan masyarakat. Berbagai sumber menyebut adanya diabetes mellitus, batu ginjal, gangguan fungsi ginjal, kelainan irama jantung disertai penurunan fungsi pompa jantung, dan adanya riwayat stroke. Semua itu menyumbang terjadinya perburukan status kesehatan Pak Harto. Dan sebagai sebuah organ penentu kehidupan, berkali pula tim dokter menyebut Cardiac Resynchronization Therapy (CRT), sebagai salah satu pilihan untuk memulihkan jantung Pak Harto.
Tim yang beranggotakan para pakar ini berharap dengan CRT, jantung Pak Harto bisa memompa darah lebih efektif, dan ujung-ujungnya bisa memulihkan fungsi organ yang lain. Mengapa jantung Pak Harto membutuhkan CRT? Benarkah CRT seampuh itu? Bagaimana cara kerja CRT di jantung Pak Harto nantinya?
Jantung sebagai sebuah organ vital dalam tubuh terdiri atas empat ruang. Ruang pertama adalah atrium(bilik) kanan, yang berfungsi menerima darah ‘kotor’ dari seluruh tubuh. Darah ini kemudian masuk ke ruang kedua, ventrikel(serambi) kanan, yang memompa darah ke paru-paru. Paru-paru mengisi darah dengan oksigen, mengirimnya ke ruang ketiga, atrium kiri jantung. Atrium kiri memompa darah ’bersih’ melewati sebuah pintu yang disebut katup mitral, menuju ventrikel kiri, ruang terpenting dari jantung. Mengapa disebut terpenting? Karena ventrikel kiri inilah yang bertugas memompa darah, menyalurkannya ke seluruh tubuh, termasuk organ penting seperti ginjal, otak dan paru-paru. Baca lebih lanjut »
DIarsipkan di bawah: kesehatan jantung | yang berkaitan: pak harto, Cardiac Resynchronization Therapy, Penyakit Jantung, Gagal Jantung | 2 Komentar »
akhirnya…
oleh M. Yusuf Suseno
Menonton Pak Dahlan Iskan di acara Kick Andy (MetroTV 3/4/0
membuat saya teringat pada sepotong kalimat di buku Tuesday with Morrie-nya Mitch Albom. Morrie, yang saat itu tengah menjelang ajal, seperti juga Pak Dahlan menjadi makin arif dan mempertanyakan banyak hal tentang esensi hidup. Tiap pagi ia bertanya pada diri sendiri, “Inikah hari ajalku? Apakah aku telah melakukan hal-hal yang bermakna dalam hidup? Apakah aku telah menjadi seseorang yang sungguh-sungguh kuinginkan?”
Sayangnya kalimat itu tak berlaku untuk para balita gizi buruk dan orang tuanya di Surabaya. Mereka yang sebagian besar berada pada garis kemiskinan mungkin hanya bisa bertanya. ”Inikah hari ajalku? Apakah aku telah melakukan semua hal yang bisa kupikirkan untuk mempertahankan hidup?” Bagi mereka, kearifan dan kesempurnaan budi pekerti bukan tujuan utama. Perjuangan membebaskan diri dari kemiskinan dan gizi buruk masih harus disemangati.
Semangat ini tercermin dari 7,5 milyar dana anggaran untuk penanggulangan gizi buruk oleh Dinas Kesehatan Pemkot Surabaya.(Jawa Pos 3/4/0
Sebagai respon dari Pemerintah untuk meniadakan balita kurus kering di Surabaya, masyarakat pasti berterima kasih. Begitu besar perhatian Pemerintah pada kasus ini. Hanya saja kita juga perlu ragu, bisakah uang sebesar itu menggairahkan kembali Posyandu? Mungkinkah sebagian dana 7,5 milyar itu membuat Pak Camat dan Lurah lebih waspada? Akankah tujuan akhir memberantas gizi buruk tercapai? Maybe yes, maybe not. Baca lebih lanjut »
DIarsipkan di bawah: artikel termuat di JAWA POS, kebijakan dunia kesehatan | yang berkaitan: Gizi Buruk, Indonesia, Surabaya | Tidak ada komentar »
33 tahun. 33 tahun. apa makna 33 tahun bagiku?
masih menjadi seorang pejalan tidur, kata Morrie..
seharusnya mulai hari ini, urusanku cuma satu : membuat hidupku sesadar-sadarnya, sepenuh2nya. itu saja.
![]()
DIarsipkan di bawah: perjalanan, seputar hidupku | yang berkaitan: Ulang tahun | 6 Komentar »
Setelah tiga hari keliling Jawa, akhirnya aku pulang. Surabaya-Jakarta-Purwokerto-Jogja-Solo-Surabaya. Hmmh ! Capek tapi puas. Emangnya ngapain aja ?
At least aku telah melakukan tugasku. Sisanya kuserahkan pada Allah dan semestaNya…
DIarsipkan di bawah: perjalanan | yang berkaitan: Pulang | Tidak ada komentar »
Baru 2 hari di Jakarta, dan sudah kepingin pulang. Emang, dasar wong ndeso..
Tapi terasa memang kalo kota ini sudah terlalu sumpek. Setidaknya buatku. Jadi bertanya dalam hati, kenapa ya ibukota negaraku seperti ini? Padahal kata seorang teman, di Jakartalah lebih dari 80% uang negeri ini berputar.
Kalau memang demikian, mengapa uang yang banyak itu tak bisa memperbaikimu, Jakartaku? Atau karena uang sebanyak itu sebenarnya cuma dimiliki oleh segelintir orang saja, para kapitalis dan pejabat korup?
Entah.
Kuharap itu cuma prasangka buruk. Tapi kalau toh benar, maka kurasa mereka masih berbaik hati. Setidaknya mereka tetap menyisakan sesuatu bagi rakyat kecil.
Yakni sungai berbunga sampah…
Ya Allah, jadikanlah kami bangsa yang besar. Yaitu bangsa yang berani memaafkan mereka yang pantas dimaafkan. Juga bangsa yang berani menghukum mereka yang sungguh bersalah. Kabulkanlah ya Allah… Amin ya Rabbal alamin…
foto diambil dari internet, alamatnya lupa..
DIarsipkan di bawah: perjalanan | yang berkaitan: Doa, Jakarta, Kapitalisme, Kota, Sampah | 2 Komentar »

“Hidup cuma sekali, untuk itu mesti berarti.
Tapi hidup yang tumbuh tak selalu mesti menjulang tinggi.
Tumbuh dan berarti juga bisa dengan mengakar, daun rimbun melindungi.
Hidup dengan kesadaran penuh akan kini yang fana, mencintai seremeh apapun yang dikerjakan, memberi kasih sayang terluas yang bisa, dan tak lepas dari rasa syukur pada tiap tetes kehidupan yang dilimpahkan. “
‘ Itu lebih dari cukup.’
DIarsipkan di bawah: manusia-manusia, perjalanan, seputar hidupku | yang berkaitan: life, quote, Tumbuh berakar | Tidak ada komentar »
seseorang menulis untukku.
Tawaran bisa datang dalam bentuk macam-macam.
Pilihan hidup HARUS didasarkan pada tujuan hidup, BUKAN sekedar untuk mengambil jalan pintas yang akan disesali kemudian.
Nice quote!
lantas pagi ini nonton lagi Forrest Gump.
film yang menunjukkan sisi kuat dan tak kenal takut dari sikap sederhana, tulus dan lurus.
tapi tetap menikmati tiap detik hidup.
sikap pasrah pada garis takdir, sekaligus membuka peluang pada tiap detail perubahan yang disodorkan semesta.
Forrest Gump juga berkisah tentang nasib Jenny, kekasih tercinta Forrest yang tak pernah berhenti mencari.
meski pada akhirnya tahu, seperti juga Chairil anwar menulis menjelang kematiannya,
hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah
DIarsipkan di bawah: Chairil, resensi film, seputar hidupku | yang berkaitan: resensi, Film, Forrest Gump, hidup, pilihan | Tidak ada komentar »
DIarsipkan di bawah: seputar hidupku | yang berkaitan: masa depan | 3 Komentar »
Kereta menuju Barat melaju cepat. Tempat duduk hanya terisi sebagian. Ada ibu-ibu ngerumpi di depannya. Seorang mahasiswi membawa helm duduk di dekat pintu. Matahari tengah hari terasa menyengat. Tak ada AC. Cuma kipas angin berputar malas di atap kereta.
Lelaki itu duduk sendiri. Dengan ransel berisi laptop dan segumpal pakaian, ia layaknya seorang pengembara. Dan sungguh, bukankah tiap jiwa kita sebenarnya adalah pengembara?
Lelaki itu teringat dengan masa-masa sulit dalam hidupnya. Ketika ia bahkan sempat ’menjual diri’, mengirim surat pada puluhan daerah di Jawa dan Sumatra. Semua percuma. Semua berakhir sia-sia. Tak ada satupun yang bersedia membantu. Meskipun ia berani menukarnya dengan beberapa tahun bekerja di sana. Lantas kini, saat sebuah tempat, yang bahkan sangat dikenalnya menawarkan masa depan, mengapa ia masih berani menolak? Baca lebih lanjut »
DIarsipkan di bawah: perjalanan | yang berkaitan: perjalanan, puzzle | Tidak ada komentar »
“Often what we call procrastination, a lack of motivation or boredom is really just being trapped in the shell of our own comfort zone. Like a turtle, we pull inside and stop moving. Stop growing. Stop seeking.
We paint ourselves into a corner with our fears and inhibitions. We resist change. We avoid risk. Our senses dull. We may feel as if we are suffocating. We notice the dull ache of emptiness. We feel paralyzed by our fears, real or imagined! Pretty soon, living inside the safety and comfort of our shell, devoid of challenge or change, becomes a habit just like brushing our teeth in the morning or tying our shoes. Easy, effortless, familiar! We’ve retired from the excitement and challenge that purposeful living offers. Our comfort zone has become our liability zone!”
diambil dari : http://www.creativityforlife.com
DIarsipkan di bawah: manusia-manusia | yang berkaitan: copmfort zone | Tidak ada komentar »
Lelaki itu turun dari bis dengan wajah mengantuk. Kota di tengah Jawa itu masih sepi. Jam tangannya menunjukkan pukul enam pagi. Rencananya ia akan turun di terminal, tapi seperti biasa, tiba-tiba ia berubah pikiran. Saat rumah sakit tujuannya terlihat di pinggir jalan ia bangkit dan menuju pintu bis malam.
Menapak tanah dan ia mengucek matanya yang kurang tidur. Berangkat dari rumah tengah malam lantas naik bis jam satu dini hari bukan pekerjaan yang menyenangkan. Tapi selalu ada antusiasme tersendiri saat ia hendak bepergian. Denyut nadinya meningkat. Ia bersemangat. Baca lebih lanjut »
DIarsipkan di bawah: perjalanan | yang berkaitan: perjalanan, puzzle | 1 Komentar »
saat aku bertanya pada seorang kawan tentang pilihan, dan ia menjawab dengan sebuah surat. sebuah surat yang indah…
Alhamdulillah, kamu lagi diberi banyak kesempatan. Alhamdulillah, sedang disuguhkan pilihan-pilihan. Ingat-ingatlah rasa itu: berada di depan pintu-pintu terbuka. Ingatlah rasa ini manakala suatu hari nanti kamu berada di depan pintu-pintu tertutup agar kamu ingat bahwa segala sesuatu mengenal musim. Pasang-surut. Tapi ketika berhadapan dengan pintu tertutup, tetap bersyukurlah, karena setidaknya kamu tidak akan kebingungan harus memilih yang mana
Tentang jalan mana yang harus kamu pilih, pilihlah jalan yang membuat hatimu bergetar. Pilihlah jalan yang membuatmu merasa bersemangat dan berpengharapan, rendah hati dan aktif. Kalau membuat kamu malas, enggan… aku pikir itu bukan jalan untuk kamu tempuh.
Jangan pernah takut soal rizki. “Belahan jiwa” kita akan mencukupi. Sekali lagi mencukupi. Tidak berlebihan, tidak kekurangan. Percayalah, kecukupan akan selalu datang tepat pada waktunya.
Kamu boleh minta pendapat guru-gurumu, tapi menurutku dengarkanlah pendapat dari Guru Sejati. Dengarkanlah ucapanNya yang tanpa kata-kata — hanya bisa didengar melalui rasa.
Kamu boleh ke kota itu untuk menimbang-nimbang, tapi jangan lupa untuk pulang. Bahkan sebelum, selagi dan setelah ke mana-mana sebaiknya kamu pulang. Pulang ke intimu. Berpasrahlah. Berserahdirilah. Tidak perlu minta ini-itu karena kita nggak tahu apa yang harus kita minta… karena kita sendiri buta terhadap apa yang terbaik untuk diri kita. Percayalah, ketika kamu sudah benar-benar ikhlas… sudah ridho utuh, penuh, seluruh… kakimu bisa melangkah di jalan mana kamu harus melangkah, tanpa kamu harus menggerakkan apa-apa.
Apapun pilihanmu, jalan manapun yang akan kamu tempuh, ketahuilah bahwa sebenarnya semua itu sudah diatur oleh Sang Belahan Jiwa. Dia telah mengatur semua itu dengan detail. Sedetail-detailnya. Tidak ada satu noktah kecilpun yang luput. Jadi seandainya, kelak kamu merasa bahwa kamu telah salah melangkah, itu sebenarnya bukan kesalahan. Memang sudah semestinya jalannya seperti itu.
Aku setuju bahwa ini bukan perang. Kamu hanya melengkapi jalan yang mesti kamu tempuh. Memenuhi perjalanan takdirmu. Melengkapi mozaik masa depanmu. Benar kan komentarku kemarin… bahwa kamu sudah bisa melihat… bahwa gunung sebenarnya bukan gunung…
Akhirnya, aku tutup dengan kata-kata dari guru kita, The Warrior of Light:
For the warrior of light
there are no ends, only means.
Life carries him from unknown to unknown.
Each moment is filled with thrilling mystery:
the warrior does not know
DIarsipkan di bawah: perjalanan, seputar hidupku | yang berkaitan: jalan, pilihan2, surat | 2 Komentar »
tengah malam, habis nonton LEON.
sebuah film lama yang pertama kutonton lebih dari 10 tahun lalu.
tentang seorang lelaki buta huruf bernama Leon(Jean Reno) yang hidup hanya bersama sebuah tanaman hias selama bertahun-tahun, dan berprofesi sebagai pembersih. the cleaner.
dan ia memang sungguh bersih melakukan pekerjaannya. ia pembersih manusia. pembunuh bayaran. seorang pro. seseorang yang hidup dengan irama monoton selama bertahun-tahun.
lantas semua berubah saat ia membuka pintu apartemennya untuk Mathilda(Natalie Portman), seorang gadis kecil 12 tahun yang seluruh keluarganya dibunuh oleh polisi khusus narkotika (DEA), Stansfield dkk(Gary Oldman).
mathilda menganggap leon adalah lelaki sejati, seseorang yang akan bisa membantunya membalas dendam. mathilda jatuh cinta. tapi cinta di sini jauh dari masalah seksual, selain kadang ’intermezo’ mathilda yang dalam masa pubernya ingin bereksplorasi secara seksual, dan tak pernah ditanggapi leon.
leon tercerabut dari dunianya, memasuki dunia baru yang berwarna.
lantas datanglah hari yang paling bahagia.
hari setelah leon terpaksa menyerbu markas DEA untuk menyelamatkan mathilda yang nekat hendak membalas dendam.
malam itu mathilda mengenakan gaun pembelian leon, lantas ia memaksa leon tidur di kasur, meluruskan kakinya, mengatur agar tangan leon yang kaku memeluknya.
meninggalkan kebiasaan puluhan tahunnya yang selalu tidur di atas kursi dengan setengah mata terbuka.
inilah malam paling membahagiakan bagi leon. malam dimana ia bisa tidur nyenyak hingga mendengkur.
saat esoknya ia memaksa mathilda pergi karena apartemen mereka diserbu polisi, ia berkata, ”kau tak usah khawatir. aku akan hidup. inilah saatnya aku sungguh merasa ingin meneruskan hidup.”
sesuatu yang tak pernah ia miliki selama bertahun-tahun.
dari leon aku kembali belajar bahwa hidup selalu akan berubah.
meski hanya semata karena membuka pintu.
bersiaplah.

DIarsipkan di bawah: resensi film, sepi, seputar hidupku | yang berkaitan: resensi film | Tidak ada komentar »
1. Apakah Mitral Stenosis?
Mitral Stenosis adalah suatu penyakit jantung, dimana katup atau pintu yang menghubungkan ruang atrium(serambi) dan ventrikel(bilik) jantung bagian kiri mengalami penyempitan, sehingga tidak bisa membuka dengan sempurna. Seperti kita ketahui, jantung terdiri atas 4 ruang besar. Pertama adalah atrium(serambi) kanan, yang menerima darah dari seluruh tubuh, kedua : ventrikel(bilik) kanan yang memompa darah kotor ke paru-paru, ketiga : atrium kiri yang menampung darah bersih penuh oksigen dari paru-paru, dan keempat : ventrikel kiri yang memompanya ke seluruh tubuh.
Nah, pintu penghubung antara atrium dan ventrikel kiri disebut pintu mitral. Apabila terjadi penyempitan pada pintu penghubung antara serambi kiri dan bilik kiri, itulah kondisi yang disebut mitral stenosis.
2. Mengapa bisa terjadi Mitral Stenosis?
Sebagian besar dari penyempitan katup mitral terjadi karena proses peradangan yang disebut demam rematik. Peradangan ini disebabkan oleh suatu reaksi radang akibat infeksi kuman streptokokus di masa kanak-kanak, yang biasanya tidak begitu disadari. Akibat peradangan ini terjadilah perubahan bentuk dari katup mitral, menjadi lebih kaku, lebih sempit, hingga mengganggu terbukanya pintu mitral secara sempurna. Ini akan berakibat jumlah darah yang masuk ke ventrikel kiri menurun.
3. Apa yang terjadi bila Mitral Stenosis tidak ditangani?
Akan timbul beberapa gejala. Mula-mula akan timbul gejala mudah lelah. Mudah lelah terjadi karena penyempitan pintu mitral menyebabkan pengisian darah ke ventrikel kiri berkurang, hingga darah yang dipompakan ke seluruh tubuh juga menurun. Pada fase lanjut terjadi gejala sesak napas, mula-mula saat aktifitas berat, yang apabila tidak diatasi akan timbul pada aktifitas yang lebih ringan. Sesak ini terjadi karena darah yang seharusnya mengalir lancar melalu pintu mitral tertahan di paru-paru, menyebabkan paru-paru terisi cairan. Dan seperti antrian mobil yang panjang akibat gangguan di pintu tol, lama kelamaan cairan juga akan menumpuk di kaki (bengkak) dan perut (perut sebah dan membesar). Selain itu, juga akan terjadi pembesaran ruang-ruang jantung yang lain, seperti atrium kiri dan ventrikel kanan karena peningkatan tekanan akibat darah yang mengalir tidak lancar. Perubahan bentuk ruang jantung tersebut sering menimbulkan gangguan irama, yang akan memberi keluhan berdebar-debar. Bila tetap tidak ditangani, pasien bisa meninggal karena sesak napas yang sangat berat akibat timbunan cairan di paru-paru, atau penurunan tekanan darah yang berat (syok), dan bisa meninggal mendadak akibat gangguan irama jantung. Baca lebih lanjut »
DIarsipkan di bawah: kesehatan jantung | yang berkaitan: jantung, mitral stenosis | 3 Komentar »